Oleh: munggang | 13 April 2009

Wisata Murah Ujung Genteng

cool

Jujur saja, saya baru dengar nama Ujung Genteng waktu teman saya Firman ngajakin untuk liburan ke sana. Berhubung waktu itu saya ga punya rencana ke mana-mana, akhirnya saya iyain aja. Apalagi, Adjie kasih info tambahan: “Biayanya murah kok, siapin aja maksimal Rp. 300.000,-“. Cuma ada syaratnya: harus siap capek.

Hmmm, siapa yang nggak tegiur dengan tawaran seperti itu. Apalagi, paket wisatanya cukup menarik. Selain bisa menikmati indahnya pantai di sisi selatan Jawa Barat, mencicipi ikan-ikan segar yang dibeli langsung dari nelayan, menyaksikan penangkaran penyu, kitapun juga bisa mengunjungi dan bermain-main di air terjun alam yang indah.

Alhasil tanggal 9-11 April 2009, saya putuskan untuk menjelajahi alam Ujung Genteng. Saya terpaksa tidak ikut meramaikan pesta demokrasi sebab sistem pendataan KPU yang kurang tertata mengakibatkan nama saya tidak tercantum dalam DPT TPS setempat.

Perjalanan saya awali dari Cikarang. Pukul 7.15 pagi, saya dan Satyadi berangkat ke UKI menggunakan angkot K 59. Ongkosnya Rp.6000,- per orang. Di UKI, kami bertemu dengan Adjie dan Firman yang berangkat dari Jakarta, dan Rani dari Bekasi. Tadinya, kami berniat untuk menunggu Eric yang berangkat dari Bandung. Namun atas pertimbangan waktu, akhirnya kami memutuskan untuk bertemu Eric di Sukabumi.

Setelah menunggu cukup lama dan bus jurusan UKI-Sukabumi belum muncul-muncul juga, akhirnya kami memutuskan untuk ke Bogor terlebih dahulu baru ke Sukabumi. Biaya bus AC ke Bogor adalah Rp. 7000,- per orang. Sampai di Bogor, ada 2 alternatif menuju Sukabumi: menggunakan bis ¾ atau colt. Kami memilih naik colt yang waktu itu lagsung berangkat. Biayanya Rp. 13.000,- per orang.

Perjalanan ke Sukabumi cukup menarik. Colt yang sempit ini dijejali dengan penumpang. Kamipun berkali-kali terbanting-banting di tengah jalan yang berlubang. Namun, ternyata itu belum seberapa, sebab nantinya, perjalanan berikutnya jauh lebih seru. Hal yang menarik dari perjalanan ke Sukabumi adalah sopir dan keneknya berganti hingga 4 kali! (tanya kenapa?)

Sampai di Sukabumi, hari sudah siang. Eric ternyata sudah tiba lebih dulu. Tim kamipun lengkap sudah. Jumlahnya 6 orang. Rute selanjutnya adalah terminal bus Lembur Situ.

Untuk menuju Lembur Situ, seharusnya berganti angkot dua kali. Namun, waktu itu si sopir menawarkan diri untuk langsung mengantarkan kami ke tujuan. Setelah negosiasi harga, dicapailah kesepakatan. Kami membayar ongkos sebesar Rp. 65.000,- untuk biaya dari Sukabumi ke Lembur Situ.

Kendaraan di terminal bis Lembur Situ cukup lengang, namun penumpangnya berjubel. Kata ibu-ibu pedagang nasi di sana, beberapa angkutan umum banyak yang tidak jalan sebab mereka harus nyontreng terlebih dahulu. Alhasil, begitu ada satu kendaraan yang datang, semua penumpang pun langsung berebutan untuk naik.

Melihat kondisi yang demikian kami memutuskan utnuk istirahat terlebih dahulu. Kebetulan di dalam terminal terdapat mesjid yang bersih dan adem. Kami sholat di sana, lalu dilanjutkan dengan makan siang sambil menunggu angkutan ke Surade, tujuan kami berikutnya.

Ada satu bis ¾ yang masuk ke terminal. Namun, dalam waktu singkat, bis itu pun penuh oleh penumpang. Tadinya, kami sempat berpikiran nekat untuk tetap memaksa naik meskipun harus berdiri. Tetapi niat itu kami urungkan. Untungnya, tak berapa lama kemudian, ada 1 colt yang diperbantukan untuk mengangkut calon penumpang ke Surade yang jumlahnya semakin bertambah. Kami pun tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Segera kami masuk, berdesak-desakan dengan penumpang lainnya. Ongkosnya Rp.25.000,- per orang.

Perjalanan dari Lembur Situ ke Surade ini lah yang paling melelahkan. Medan jalannya mendaki dan berkelok-kelok dengan tikungan yang cukup tajam. Selain itu jalanannya pun banyak yang rusak. Berkali-kali mobil yang kami tumpangi terguncang-guncang akibat masuk ke dalam lubang. Ditambah lagi dengan posisi tempat duduk yang sempit-sempitan, semakin lengkap lah penderitaan kami.

Medan yang seperti ini harus kami tempuh selama lebih kurang 3 jam. Selama itulah kami bersabar sembari menggantungkan nasib kami ke tangan pak sopir yang cukup cekatan melakukan manuver-manuvernya. Syukurlah mobil colt yang tua ini masih kuat membawa kami sampai ke tujuan. Pukul 5 lewat, kami tiba di Surade.

Perjalanan belum berakhir. Jarak Surade ke Ujung Genteng masih sekitar 22 km. Angkot terakhir sudah berangkat pukul 4 sore. Yang ada hanyalah beberapa tukang ojek yang mencoba menwarkan jasanya. Namun sayang, biaya ojeknya cukup mahal. Mereka minta Rp 40.000,- per orangnya. Bandingkan dengan ongkos angkot normal yang cuman Rp. 8000,- per orang. Setelah mengobrol dengan beberapa tukang ojek di sana, kami memutuskan untuk mencarter angkot. Syukurlah para tukang ojek itu bersedia untuk membantu mencarikan angkot. Setelah negosiasi yang alot, tercapailah ksepakatan harga. Kami cukup membayar Rp. 90.000,-.

Hari semakin gelap dan gerimis mulai turun. Lagi-lagi medan Surade menuju Ujung Genteng tidak bersahabat. Cukup banyak bagian jalan yang rusak dan belum diperbaiki. Lampu penerangan jalan pun nyaris tidak ada. Rumah-rumah penduduknya jarang-jarang. Untuk menghidupkan suasana, sang sopir menyetel lagu-lagu pop yang sedang popular dengan volume yang kerasnya gila-gilaan.

Setengah jam kemudian, kami pun tiba di Ujung Genteng. Kami diantar hingga ke pelabuhan nelayan dekat Tempat Pelelangan Ikan (TPI). Di antara gelapnya malam, nampak siluet kapal-kapal yang berjejer rapi. Suara desiran ombak terdengar berbaur dengan aroma laut. Sayang, di dekat situ tidak ada penginapan. Kami pun berjalan berbalik arah mencari tempat penginapan yang tanpa kami sadari ternyata sudah terlewati.

Tak lama kemudian, kami pun tiba di penginapan itu. Namanya penginapan Dewi Sari Bunga. Syukurlah masih ada kamar yang kosong. Kami memesan 2 kamar. Biaya per kamarnya cukup murah, semalamnya cuman Rp. 50.000,-.

Setelah membersihkan diri, kami pun terlelap. Agenda berikutnya adalah menyambut matahari terbit di tepi pantai.

Sun Rise

Agenda kami di hari kedua adalah menyusuri pantai sembari menjemput terbitnya matahari pagi, sarapan dengan lauk ikan segar bakar dan menikmati keindahan air terjun Cikaso.

Selepas subuh, kami sudah berangkat menuju ke pinggir laut yang terletak di belakang penginapan kami. Udaranya segar, ombak pun tidak terlalu besar. Langit cukup bersih meskipun masih agak gelap.

Pantai yang luas ini benar-benar sepi. Hanya kami yang berada di sana. Deburan ombak berkali-kali menyapu lantai, meninggalkan buih yang menyapu pergelangan kaki kami.

Tak berapa lama, cahaya langit mulai kemerah-merahan. Matahari mulai terbit, menyelinap di antara awan. Subhanallah, pemandangannya benar-benar indah. Perpanduan antara cahaya dan kilauan ombak telah menghasilkan sebuah maha karya alam yang luar biasa.

langit-pagi

Saat langit semakin terang, kami melanjutkan penyisiran kami. Pasir yang semula berwarna hitam gelap, perlahan-lahan berganti menjadi putih. Inilah sisi lain dari pantai Ujung Genteng. Lautnya tenang dan airnya jernih. Ombak pecah jauh di tengah laut. Beberapa karang muncul ke permukaan. Vegetasinya pun rimbun. Suasana yang sepi dan tenang benar-benar menggambarkan surga dunia.

pantai-pasir-putih

Setelah berjalan berkeliling pantai kurang lebih sejam lamanya, kami lalu menuju ke Tempat Pelelangan Ikan (TPI). Jejeran ikan-ikan segar menyambut kami di sana. Beberapa nelayan nampak sibuk menurunkan boks-boks berisi ikan dari kapal. Sayang, kami lupa untuk mengabadikan gambar di sana. TPI itu tidak terlalu luas dan ramai, tetapi tempatnya lumayan bersih.

kapal-nelayan

Kami mencari udang, lobster dan kepiting. Sayang, kami belum beruntung. Kami datang pada musim yang kurang tepat. Tidak ada satupun nelayan yang menjual ketiga binatang laut tersebut. Sebenarnya ada satu pedagang yang menjual lobster, namun ukurannya kecil dan harganya selangit sehingga kami urung membeli. Untuk mengobati kekecewaan, kami akhirnya membeli beberapa ekor ikan kakap dan ikan panjang (ga tau namanya apa, yg jelas ukurannya panjang). Setelah ditimbang, beratnya sekitar 2,5 kg dengan total harga Rp. 75.000,-.

Berdasarkan info dari pedagang, di dekat situ ada sebuah warung yang bersedia untuk memasak ikan hasil belanjaan kita. Kami pun beranjak ke sana. Ikan-ikan itu kami pilah-pilah, beberapa dibakar sementara sisanya digoreng. Setelah matang, ikan-ikan itupun siap disantap. Hmmm, rasanya nikmat sekali. Kesegaran ikannya benar-benar terasa. Apalagi disantap dengan nasi putih hangat dan ditemani oleh sambal kecap. Sarapan pagi yang istimewa ini menghabiskan biaya Rp. 148.000,- dengan rincian sebagai berikut:

- biaya masak = Rp. 50.000,-

- nasi putih (6 porsi) = Rp. 24.000,-

- sambal kecap = Rp. 20.000,-

- teh tawar hangat (6 gelas) = Rp. 12.000,-

- softdrink (6 botol) = Rp. 42.000,-

menu-sarapan

Selepas makan, kami kembali ke penginapan untuk mempersiapkan diri menuju ke tempat selanjutnya: Curug Cikaso.

Curug Cikaso

Untuk menuju Cikaso, kami sepakat mencarter angkot. Biaya yang kami keluarkan sebesar Rp.200.000,- dengan rute Ujung Genteng – Surade – Cikaso – Cibuaya. Berhubung hari itu Jumat, kami Sholat Jumat terlebih dahulu di sebuah mesjid di Surade. Khatibnya berceramah menggunakan Bahasa Sunda yang tidak saya mengerti satu patah pun.

Setelah tiba di Cikaso, perjalanan dilanjutkan dengan menggunakan perahu. Ongkos sewanya sebesar Rp. 70.000,- untuk satu perahu dan bisa diisi hingga 12 orang. Selain itu, setiap orang dikenakan biaya retribusi seharga Rp. 2000,-. Tadinya, kami berpikir jarak tempuh antara tepi sungai Cikaso menuju curug Cikaso akan memakan waktu yang lama. Ternyata, kurang dari 10 menit, perahu sudah tiba di lokasi air terjun itu berada. Iseng-iseng Adjie berkomentar: “Walah, kalau tau dekat gini, mendingan renang saja tadi.”

img_1238

Untunglah pemandangan di Curug Cikaso benar-benar indah. Dua buah air terjun berjejer dengan gagahnya membelah tebing yang digelayuti lumut-lumut hijau. Sungguh lukisan alam yang luar biasa. Lagi-lagi saya berucap syukur mengagumi ciptaan Tuhan yang begitu sempurna.

curug

Beberapa bebatuan besar nampak menyembul dari permukaan air. Namun, kita mesti hati-hati. Bebatuan ini sebagian besar diselimuti oleh lumut sehingga licin.

curug2

Kami tidak menyia-nyiakan kesempatan saat melihat air yang begitu jernih. Satu persatu pun mulai menceburkan diri, membaur dengan butiran buih.

Setelah puas bermain, kami lalu berkemas dan kembali menuju ke angkot. Tujuan selanjutnya adalah Pantai Cibuaya sambil melepas kepergian matahari sore.

Pantai Cibuaya

Pantai Cibuaya terletak bersebelahan dengan Ujung Genteng. Pantai ini sepertinya akan dijadikan sebagai tempat wisata. Terbukti dengan begitu banyaknya vila-vila yang berjejer menghadap ke laut. Pasirnya putih dengan tonjolan karang berwarna hitam di permukaannya. Cukup banyak wisatawan lokal maupun asing yang berada di sana. Sebagian besar berenang menikmati air laut yang hangat.

pantai-cibuaya

Sayang, niat kami menyaksikan matahari terbenam terhalang oleh awan yang menggayut di langit sambil meneteskan air hujan. Meskipun pada akhirnya hujan reda, sisa-sisa awan masih saja menghalangi pandangan. Untunglah, suasana langit yang gelap tetap memberikan keindahannya sendiri.

img_1353

Kami pulang ke Ujung Genteng dengan berjalan menelusuri tepi pantai. Langit semakin lama-semakin gelap. Pancaran sinar purnama yang mengintip dari balik awan menambah keanggunan malam yang tenang.

Hari Terakhir

Hari terakhir kami habiskan dengan kembali mencegat sinar matahari pagi. Laut di batas cakrawala bersinar terang menyambut hadirnya sang surya. Tanpa merasa bosan, kami kembali mengabadikan pemandangan yang ada.

sun-rise1

Pada malam sebelumnya, sempat ada tawaran untuk menyaksikan penyu yang sedang bertelur. Namun, karena sudah lelah dan tidak ada jaminan pasti bahwa ada penyu yang bertelur, kami pun tidak tertarik dengan tawaran tersebut. Jika kita tanya ke penduduk setempat, mereka hanya menjawab: “ Kita juga kurang tau kepastiannya. Yang jelas, kalau penyu-penyu bertelur, biasanya di pantai itu”. Tambahan lagi, satu-satunya cara menuju ke sana adalah dengan menggunakan ojek selama kurang lebih satu jam, melalui jalan sempit di tengah malam yang pekat. Si tukang ojek biasanya memasang tarif Rp. 40.000,- per orang bolak balik.

Pukul 7.30 pagi, kami pun beranjak pulang. Dalam perjalanan dari penginapan menuju Surade, kami bertemu dengan rombongan yang pada malam sebelumnya ikut serta dalam perburuan penyu. Ternyata, hanya ada satu ekor penyu yang bertelur malam itu. Penyu ini pun dalam sekejap langsung menjadi bintang. Meskipun penjualan telur-telur penyu dilarang, mereka mengatakan masih ada juga beberapa orang yang menawarkannya dengan harga Rp. 4000,- per butir.

Di Surade, telah menunggu bis MGI yang siap mengantarkan kami ke Bogor. Kami baru tau, ternyata ada juga trayek Bogor-Surade meskipun armadanya terbatas. Ongkosnya Rp. 35.000,- per orang. Ini bisa jadi alternative transportasi jika ingin kembali kelak.

pulang

Akhirnya, selesailah perjalanan kami menjelajahi pantai di Ujung Genteng. Terimakasih buat Adjie yang sudah menjadi EO dan juru foto yang handal (semua foto di sini adalah koleksi beliau). Terimakasih juga buat Firman, Satyadi, Rani dan Eric yang sudah menjadi tim yang solid.

About these ads

Responses

  1. seruuuu….aku suka wisata alam…apalg yg murah meriah ky gt..heheee…

  2. Munggang..
    Wah pergi kok nggak ajak2..
    From the pic sih keliatan tempat yg bagus y, aplg setelah baca the whole story kebayang d seruny adventure kemaren itu..
    Keep posting y bro’, biar nggak bisa ikut pergi rame2 diceritain juga dah berasa asikny..

    Waiting for the next edition..

  3. Mantab………….ala backpacker…..ini baru namanya petualang…..

  4. jadi ke bangka ga bang??

  5. Jadi Git… Bulan Juli kan? Saya nabung dari sekarang deh….

  6. Jd pengen kesana?

  7. rencana kami jg mau k sanah, buat nambh pnglman, dan kya’y prjlanan kami ini akan seru dan mlelah kan…

  8. greats….
    jadi pengen…
    tapi kita uh stw..
    udah perlu springbed dunlopillo, haha

  9. Wedewww Mantafff,,
    seru banget baca’a, gw pikir mah udah bagusan, ternyata sepertinya masih sama seperti dulu yah, ga b’ubah. Jalanan masih banyak yang bolong, k’adaan disana juga masih gelap y,? Tapi yang masih sama seh, masih tetep murah & dapet p’ngalaman yg luar biasa mantafff dengan harga yg murah itu.
    kalau dulu, gw jalan sama temen2 gw cuma b’4, tapi gw kesana setelah ada Sunami di Pangadaran (udah lama bet itu mah) harga penginapan’a waktu itu cuma 25rb/kamar, murah bangetttt,,, penginapan’a g jauh dari warung bakso Ojolali yang deket terminal.

    Next time pengen lagi ke sana

  10. halu.. salam kenal..saya ada rencana mo kesana dalam waktu dekat ini.. mo tau donk.. info lebih lanjut tentang penginapannya.. ada no.yang bisa di hubungi langsung ke penginapannya g??? terimakasih.

  11. Mau tanya donk, tgl 18 saya rencananya mau ke UG sama temen2..
    Penginapan Dewi Sari Bunga tepatnya lokasinya sebelah mana? n’ fasilitasnya apa aja? tempatnya bersih ga? trus kalo bisa CP-nya donk kalo punya…
    Hehe…
    Makasih, maaf bnyk nanya..
    ^.^

  12. @Dewi: Halo Dewi, salam kenal juga. Penginapan Dewi Sari Bunga itu letaknya sebelum Ujung Genteng (sebelah kiri jalan) kalau dari arah Surade. Bilangin aja ke supirnya, saya sendiri kebetulan ga punya nomor yg bisa dihubungi di sana. Seandainya si supir ga tau, terusin aja angkotnya sampe mentok ke daerah pelabuhan (banyak kapal2), setelah itu jalan kaki balik ke arah Surade. Jaraknya sekitar 15 menit lah di sebelah kanan jalan.
    Tempatnya bersih, ada kamarmandi dalam dan tempat tidur. Cuma lampunya agak remang2. Di deket situ ada warung juga kalo mau beli indomie panas atau air minum. Bentuknya sih seperti kontrakan mahasiswa.
    Have fun ya dengan perjalanannya. Di belakang tempat penginapan itu laut dan pas banget buat ngejar sun rise…:D

  13. @Susi: Salam kenal juga ya.. Untuk balasannya sama dengan balasan buat Dewi di atas.
    Have fun buat perjalanannya…

  14. Bisa tolong rekomendasi penginapan yg homestay ga? tempat mana aja yg harus kiita kunjungin…?
    Pliss kita mo jalan tgl 24 Des 09 nehhh

  15. @Wanda: Halo Wanda, salam kenal. Untuk homestay bisa di penginapan Dewi Sari Bunga. Dari situ bisa jalan kaki ke laut dan ngeliat matahari terbit. Untuk tempat2 yg bisa dikunjungi sama seperti tulisan saya di atas. Tambahannya, kamu juga bisa berburu penyu bertelur di pagi hari (jam 2an kalo ga salah). Ada tukang ojek yg siap antar jemput dengan biaya 40 ribu pulang pergi. Kalo udah di sana gampang kok nyari tukang ojeknya, atau tanya aja di penginapan. Have fun ya jalan2nya…

  16. halu.. menarik sekali ceritanya..
    saya rencana pergi kesana januari nanti mau carter bus kecil (yg isi 8/24) kira2 bisa gak kalo bus kayak gitu lewat sana.. ataukan lebih baik pake mini bus ato angkot..?

    thanks ya

  17. @Flo: Halo, salam kenal. Kalau naik bis kecil bisa kok. Cuma, jalur dari sukabumi ke ujung genteng ada beberapa bagian yg rusak. Mudah2an sekarang udah diperbaiki. Ada juga bis umum yg lewat situ. Tapi ga sampe pantainya.
    Selamat jalan-jalan ya. Have a nice trip…:D

  18. Thanks pak infonya..

    saya nemu paket ke UG seharga Rp 500 ribuan per orang.. worth it gak ya pak atau lebih enak bawa bis kecil aja ..?

    thanks,

  19. oiya pak,, saya sempet denger kalo kesana pas musim ujan terpaksa tidak bisa kemana-mana.. ada info gak pak, mengenai musim disana..

  20. Salam kenal..
    mau tanya dounk..
    klo ke ujung genteng dengan cara ngeteng naik bis atau angkot bs ga..ada angkutan dsna…
    Trs, penginapannya yg dkt ujung genteng ada ga…
    aku dan tmn2 mau liburan ala backpacker k sna..
    Thanks sblumnya..
    Mohon infonya kawan !!!

  21. @Flo: Sekedar info, saya waktu ke sana cuma habis 300ribu kok. Udah penginapan 2 malam, plus makan sea food dan jalan2nya. Waktu itu 6 orang yg berangkat. Mungkin kalau yg 500rb itu penginapannya lebih enak…:D Memang, musim hujan bukan waktu yg tepat. Jadi sulit kalau mau ke mana2…

  22. @Chaterine: Sangat bisa sekali. Untuk detailnya, bisa liat di tulisan saya di atas. Selamat ber-backpacker ria…:D

  23. mau nanya nich….kang kalau pake motor berapa jam dari bandung, terus penginapan dewi sari bunga taripnya sekarang berapa …..atau mungkin ada penginapan yang lain yang sama harganya soalnya takut penuh penginapannya. sorri nanya terus soalnya pingin banget kesana. terim’s

  24. heyyy.. salam kenal y hihihi…
    seruuuu bangettt pengalamannya,,,
    recommended y tempat2 daerah jawa barat yang bagus n bisa backpakeran hihihi….
    niat mau k ujung genteng nihhhhhh insyaallah bulan depan…
    contact email gw y…. tenkyuuuuuu :)

  25. bro,,,kalu mau ke ujung genteng lagi via backpacker..saya mau ikut donk,,,tlong kontak ke email ato fb saya ya,..thx..

  26. @Tsuge:
    Waalaikumsalam…
    Salam kenal juga ya. Tulisan ini saya buat sudah cukup lama. Kalau kondisi saat itu, jalannya masih ada yg berlubang. Naik motor sih bisa aja kok…
    Untuk penginapan, yg saya tulis di atas termasuk yg murah dan lokasinya dengan laut. Selamat mencoba…:D

  27. dari surade bus terakhir ke bogor jam berapa ya??

  28. Selamat pagi, boleh minta info penginapan murah untk 10 orang
    nomor contak?
    kami mau pergi tgl 1-3 April

    salam
    Lind


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: