Oleh: munggang | 10 Oktober 2009

Beratnya Menjadi Orang Jujur

buku%20HOEGENG

Beberapa waktu yang lalu saya membeli sebuah buku di gramedia Grand Indonesia. Kebetulan saat itu sedang ada diskon 30% all item. Judul buku yang saya beli cukup menarik: Hoegeng, Oase Menyejukkan di Tengah Perilaku Koruptif Para Pemimpin Bangsa. Saya tertarik, sebab buku ini mengulas seorang sosok langka yang tidak ada tandingannya dalam sejarah republik kita.

Siapa yang tidak mengenal Hoegeng? Mantan Kapolri yang sederhana, dan jujur ini telah menjadi legenda. Bahkan, seringkali muncul gurauan mengenai beliau. Di Indonesia hanya ada 3 polisi yang tidak bisa disogok: patung polisi, polisi tidur, dan Hoegeng.

Saya pertama kali mengenal sosok Hoegeng, ketika membaca biografinya di perpustakaan kampus saat masih kuliah dulu. Namun sayang, buku yang terbit di tahun 1993 tersebut lebih menceritakan kehidupan Hoegeng ketika kecil, dewasa, hingga menjabat sebagai Kapolri. Cerita-cerita setelah beliau “dipensiunkan” lalu ikut menandatangani Petisi 50 tidak banyak diungkapkan. Mungkin disengaja akibat tingginya tekanan penguasa pada saat itu. Untunglah, buku kecil yang saya beli ini, selain menceritakan sekilas perjalanan hidup Hoegeng, juga memuat beberapa kisah yang tidak mungkin diterbitkan pada masa Orde Baru dulu. Sejumlah testimoni dari beberapa teman dekat beliau turut memberikan nilai tambah tersendiri.

hoegeng_youngSaya tidak bermaksud membahas lebih dalam mengenai isi buku tersebut. Saya hanya ingin mengulas bagaimana seorang Hoegeng bisa bertahan di tengah kesulitan menghadapi tekanan-tekanan yang ada ketika beliau memposisikan kejujuran, kesederhanaan dan kerendah hatian sebagai panglima dalam sikap hidupnya sehari-hari.

Saat ini, cukup banyak kalangan elit di negara kita yang menyuarakan kata-kata “bersih” dan “anti korupsi” sebagai dagangan politik. Namun, hanya sedikit, atau bahkan boleh dibilang nyaris tidak ada, yang benar-benar menerapkannya dalam suatu tindakan nyata. Korupsi benar-benar telah melembaga, sehingga sebersih apapun orangnya jika masuk dalam sistem yang ada, sadar ataupun tidak, akan terlibat korupsi.

Dibentuknya lembaga KPK tidak dapat menjamin korupsi akan mudah untuk diberantas. Apalagi saat kewenangan KPK mulai dipreteli secara perlahan. Budaya sogok dan uang pelicin telah masuk dan merusak sendi-sendi moral bangsa dari level tertinggi hingga level terendah. Siapapun seakan ingin mendapatkan uang secara instan meskipun bertentangan dengan norma. Bahkan, agama sebagai tiang masyarakat sudah semakin kesulitan untuk menangkalnya.

Percaya atau tidak, kondisi yang terjadi sekarang ini ternyata tidak jauh berbeda dengan 40 tahun silam. Namun mengapa saat itu bisa muncul seorang Hoegeng sedangkan sekarang tidak? Ini adalah pertanyaan menarik dengan berbagai kemungkinan jawaban.

Yang jelas, menjadi orang jujur itu bukan perkara mudah. Kejujuran yang dimiliki Hoegeng tidak muncul dan bertahan begitu saja. Dibutuhkan berbagai faktor-faktor pendukung, baik internal maupun eksternal agar sikap jujur yang (biasanya) ditanamkan sejak kecil bisa dijalankan secara konsisten. Belajar dari kisah Hoegeng, ada beberapa alasan mengapa beliau bisa tetap mempertahankan idealismenya hingga akhir hayat.

1. Didikan Masa Kecil

Hoegeng terlahir dalam lingkungan penegak hukum yang jujur dan profesional. Ayahnya, Sukario Hatmodjo, adalah seorang jaksa di Pekalongan. Meskipun berasal dari kalangan birokrat, ayahnya tidak sempat memiliki tanah dan rumah pribadi hingga akhir hayat. Pendirian ayahnya satu: “yang penting dalam kehidupan adalah kehormatan, jangan merusak nama baik dengan perbuatan mencemarkan”.

Salah satu sahabat ayahnya yang telah mengilhami Hoegeng untuk menjadi polisi bernama Ating Natadikusumah yang saat itu menjabat sebagai Kapala Jawatan Kepolisian Karesidenan Pekalongan, dengan pangkat Komisaris Polisi Kelas I. Penampilan Ating yang gagah, berwibawa, suka menolong orang dan memiliki banyak teman telah memberikan kesan mendalam bagi Hoegeng kecil.

Satu lagi sahabat ayahnya yang lain yang turut membentuk karakter Hoegeng adalah Soeprapto. Beliau ini jaksa agung 1950-1959 yang pada masa jabatannya berhasil menggiring beberapa menteri ke dalam penjara akibat dugaan kasus korupsi.

Lingkungan seperti inilah yang nampaknya telah menanamkan jiwa kejujuran dan mengormati hukum kepada Hoegeng semenjak kecil. Contoh-contoh teladan yang begitu nyata dan begtu dekat dengannya menyebabkan didikan moral tersebut dapat lebih mudah meresap dan terkristalisasi menjadi pedoman hidupnya kelak.

2. Keinginan Pribadi Yang Kuat

Sebagai abdi masyarakat, ada pandangan hidup Hoegeng yang sangat menarik dan perlu ditiru oleh pejabat-pejabat kita saat ini. Menurutnya, pemerintahan yang bersih harus dimulai dari atas. Seperti halnya orang mandi, guyuran air untuk mebersihkan diri selalu dimulai dari kepala.

Hoegeng percaya, ketika seseorang mendudukui suatu jabatan, akan begitu banyak pihak-pihak dari berbagai kepentingan yang mencoba melakukan pendekatan agar kepentingannya terpenuhi. Ini dialaminya ketika bertugas di Sumatra Utara. Begitu banyak “hadiah” selamat datang yang diterimanya ketika pertama kali menjejakkan kaki di Medan. Dengan tegas, semua hadiah itu ditolak. Sikap Hoegeng yang tidak mampu disogok dengan cara apapun telah menimbulkan geger di masyarakat saat itu. Ia ternyata tidak haus kebendaan. Terlebih ia mampu membongkar berbagai kasus kejahatan kriminal di sana.

Agar mampu bertindak tegas dalam setiap kesempatan, Hoegeng selalu berusaha menutup celah-celah yang bisa dimanfaatkan berbagai pihak untuk menceburkannya ke dalam korupsi. Contoh nyatanya dengan menutup usaha dagang bunga milik istrinya sendiri ketika ia diangkat sebagai Kepala Jawatan Imigrasi. Alasannya sederhana, agar orang-orang tidak beli di toko itu karena jabatannya.

Nampak jelas, betapa Hoegeng tidak dapat dibeli. Sebaliknya, ia menunjukkan sikap seorang pamong sejati yang menempatkan kepentingan masyarakat jauh di atas kepentingan pribadi. Keloyalannya ditujukan kepada institusi tempat ia bernaung, bukan kepada atasan, bukan pula kepada sekelompok kaum berduit.

3. Dukungan Keluarga

Tidak akan ada kesuksesan tanpa dukungan keluarga. Sikap idealisme Hoegeng tidak akan berarti tanpa dukungan penuh dari istri dan anak-anaknya. Sikap keluarga yang tidak menuntut banyak inilah yang memastikan Hoegeng tetap berada di jalur yang benar.

Bayangkan, istri mana yang sanggup menerima tuntutan sang suami untuk menutup bisnis miliknya. Ataupun remaja mana yang dapat menerima perilaku ayahnya yang secara sengaja “menggagalkan” proses pendaftarannya sebagai calon taruna AAU. Semuanya dilakukan demi sebuah idealisme agar tidak dianggap memanfaatkan jabatan. Kalau bukan keluarga Hoegeng, ceritanya mungkin akan berbeda.

Pada akhirnya, bangsa ini sangat membutuhkan Hoegeng-Hoegeng muda. Siapakah mereka? Ya, kita semua. Generasi muda yang telah muak melihat kehancuran di masyarakat. Penolakan-penolakan dari kalangan tua yang sudah lama terbuai oleh nikmatnya candu dunia pastilah ada. Namun jangan anggap penolakan itu sebagai halangan. Anggaplah itu sebagai cambuk agar kita semakin terpacu dan tetap konsisten memberantas kebobrokan moral dan kemunafikan yg terjadi di negara ini. Jika seorang Hoegeng bisa, kitapun pasti juga bisa!

Oleh: munggang | 5 Mei 2009

Bola Yang Semakin Kecil

Dalam sebuah diskusi di suatu milis, saya tertarik dengan pernyataan yang disampaikan oleh salah satu peserta. Ada suatu filosofi hidup yang ingin disampaikan oleh peserta tersebut, bahwa seiring bertambahnya usia, kegemaran akan permainan “bola” pun ternyata mengalami perubahan ukuran dalam arti yang sebenarnya.

Saat masih muda, “bola” yang kita mainkan cenderung berukuran besar. Bola sepak, bola basket maupun bola voli adalah beberapa di antaranya. Tidak heran, olahraga inilah yang menjadi idola di kalangan remaja.

Memasuki usia pertengahan, golf merupakan olahraga pilihan bagi beberapa kalangan eksekutif. Kebutuhan untuk bersosialisasi demi memperlebar jejaring nampaknya menjadi alasan utama ketimbang fungsi utamanya sendiri, sebagai penjaga kebugaran.

Saat usia beranjak senja, bola-bola tasbih lah yang dominan menjadi pegangan. Upaya mendekatan diri terhadap Sang Khalik telah menjadi aktifitas rutin sehari-hari. Saat-saat seperti ini, berbagai kenikmatan dunia seakan kehilangan daya tariknya tergantikan oleh kerinduan atas indahnya surga.

Begitulah tahapan-tahapan dalam perjalanan kehidupan. Perjalanan ini tentunya akan semakin bermakna jika ia mampu memberikan manfaat, tidak hanya bagi dirinya sendiri namun juga bagi lingkungan di sekitarnya.

Mari kita belajar memaknai perjalanan hidup kita.

Oleh: munggang | 5 Mei 2009

Belajar dari Australia

Sebuah negara disegani bukan saja karena wilayahnya yang luas, namun juga karena kekuatan militernya yang mumpuni. Mungkin inilah yang menjadi alasan di balik rencana peningkatkan kekuatan militer Australia. Tidak kurang dari 100 pesawat tempur canggih F-35 buatan Lockheed (AS) akan masuk dalam jajaran pertahanan udaranya yang baru menggantikan pesawat tempur sekarang, F/A-18 Super Hornets (buatan Boeing). Hingga 20 tahun mendatang, Australia akan mengeluarkan dana lebih dari 70 milliar dolar AS untuk mendukung pengembangan sektor pertahanannya (Kompas, 3 Mei 2009).

Setidaknya ada satu hal menarik dari pengumuman yang disampaikan oleh PM Australia Kevin Rudd ini. Australia menyadari sepenuhnya bahwa Asia ke depannya akan menjadi ancaman yang serius. Oleh karena itu, peningkatan anggaran pertahanan yang dilakukannya merupakan salah satu upaya untuk mengimbangi kekuatan ini. Bahkan Australia pun sadar bahwa supremasi negaranya harus ditegakkan di kawasan Samudra Hindia yang meskipun secara geografis jauh dari wilayahnya namun memiliki peran penting sebagai jalur pengapalan bahan bakar dari Timur Tengah ke Asia (Kompas, 3 Mei 2009).

Bagaimana dengan Indonesia? Dengan kekuatan pertahanan dan anggaran yang dimiliki saat ini, rencana Australia hanya akan mengukuhkan Indonesia sebagai anak bawang yang semakin terjepit oleh hadirnya berbagai kekuatan militer yang jauh lebih tinggi oleh negara-negara tetangga se-kawasan.

Romantika kuatnya kekuatan militer Indonesia pada masa Orde Lama hingga mampu menggetarkan angkatan bersenjata Australia pada saat itu nampaknya hanya akan menjadi kenangan manis yang tertulis dalam buku-buku sejarah. Tahun demi tahun, kekuatan itu semakin melemah akibat alokasi anggaran yang terus menerus dipaksa untuk mengalah. Puncaknya adalah di tahun 2009, ketika anggaran pertahanan yang disetujui oleh pemerintah lebih rendah dibandingkan anggaran tahun sebelumnya.

Apa yang dilakukan oleh Australia seharusnya bisa menjadi pelajaran bagi pengambil kebijakan di negara kita. Dalam kondisi damai seperti saat ini, negara harus mampu melihat potensi yang mungkin terjadi dalam kurun 20, 30 atau 50 tahun mendatang. Pemanasan global, menipisnya cadangan minyak, dan munculnya negara superpower baru telah mengubah peta ancaman dunia. Peperangan yang mungkin terjadi nantinya pun lebih dilandasi oleh faktor-faktor ekonomi ketimbang faktor-faktor ideologis. Invasi besar-besaran sebagaimana yang dilakukan oleh Sekutu di Pantai Normandy dalam perang dunia II nampaknya sudah tidak menjadi pilihan menarik bagi negara-negara agresor. Oleh karenanya, doktrin pertahanan yang dikeluarkan pemerintah semestinya mampu mengikuti tren yang ada.

Selain itu, masyarakat harus menyadari bahwa pengembangan militer tidak boleh dimaknai secara sempit. Kekuatan militer merupakan simbol harga diri sebuah bangsa. Kekuatan militer perlu dibangun secara berkesinambungan sehingga memiliki daya getar yang tinggi dalam melindungi aset-aset nasional.

Jika menengok fakta beberapa tahun belakangan, betapa seringnya negara kita dipecundangi oleh negara-negara sekitar. Mulai dari sengketa perbatasan, pencurian ikan oleh kapal asing, masuknya pesawat tempur asing di wilayah udara kita, hingga lemahnya perlindungan negara terhadap pemenuhan hak TKI di luar negeri. Contoh-contoh itu adalah bukti nyata betapa wibawa kita sebagai negara terbesar di kawasan semakin menurun. Dan boleh dibilang, penurunan ini erat kaitannya dengan rendahnya kekuatan pertahanan negara kita. Coba bayangkan, masih beranikah negara-negara tersebut melakukan hal serupa jika militer kita adalah yang terkuat di kawasan?

Bangsa Indonesia bukanlah bangsa yang gemar berperang. Karena itulah kesiapan angkatan bersenjata kita dalam mencegah timbulnya perang adalah hal mutlak yang tidak bisa ditawar lagi.

Semoga apa yang dilakukan oleh Australia dapat menjadi trigger bagi negara kita, bahwa sebagai negara terbesar dan paling berkepentingan di kawasan, sudah sepantasnyalah kita yang menjadi kekuatan utama dalam mengamankan dan menjaga perdamaian kawasan. Bukan negara lain!

Oleh: munggang | 4 Mei 2009

Kisah si Jegger

Aku memanggilnya Jegger. Sama seperti nama yang diberikan oleh pemilik aslinya. Dia seekor anjing kampung betina, berwana coklat muda dengan kombinasi putih di bulunya.

Jegger bukan milik keluargaku. Dia adalah seekor anjing milik salah satu tetangga yang berasal dari Toraja.

Sebagai keluarga Muslim, memelihara seekor anjing tentu hanya akan menjadi buah bibir bagi para tetangga. Meskipun ternyata jauh sebelum aku lahir, kedua orang tuaku pernah memiliki seekor anjing tampan nan kekar bernama Gareng. Ntah kenapa ia dinamakan Gareng. Apakah karena ayahku seorang penggemar wayang? Entahlah. Yang jelas, aku hanya mengenal Gareng melalui foto, saat ia asyik bersantai di atas lantai rumahku. Ia telah menjadi bagian keluarga kami sejak masih bayi. Satu cerita yang masih tidak dapat kupercaya mengenai Gareng adalah keengganannya untuk makan daging. Makanan sehari-harinya cukup roti dan susu. Kata ayahku, mungkin karena hanya dua jenis makanan tersebutlah yang dikenalnya sejak kecil.

Sepertinya banyak hal menarik dari seekor gareng. Setidaknya itu yang kudengar dari cerita ibuku. Mulai dari sifat konfrontasinya terhadap pamanku yang waktu itu masih tinggal serumah dengan orang tuaku hingga keisengannya untuk menggoda anak kecil yang beli jajanan di warung ibuku. Sampai pada suatu ketika, di malam tahun baru, Gareng tiba2 menghilang tak tau rimbanya. Kata beberapa orang Gareng diculik, dibunuh dan dagingnya dimakan. Tragis sekali.

Kembali ke Jegger. Perkenalanku dengannya berawal dari ketidaksengajaan. Saat itu, aku masih kelas 3 SD. Seperti biasa, selepas pulang sekolah, aku paling senang bermalas-malasan di teras rumah yang adem oleh rimbunnya daun pohon mangga golek tua. Apalagi, suasana siang hari biasanya sepi. Ah, sekali angin bertiup, matapun langsung terkatup.

Tiba-tiba dari ujung seberang jalan, seekor anjing kurus berlari-lari kecil menuju ke rumahku. Aku membiarkannya begitu saja, toh di kompleks perumahan kami memang banyak anjing yang berkeliaran. Aku hanya menatapnya. Tiba-tiba, anjing itu berhenti lalu membalas tatapanku. Matanya begitu sayu. Pelan-pelan, ia menghampiri pintu teras, mendekati sebuah pot bunga milik ibuku dan menjilat-jilat air yang menetes di bawahnya. Air sisa siraman bunga milik ibuku. Ia menjilatnya dengan rakus. Rakus sekali. Sepertinya ia kehausan.

Karena kasihan, akupun masuk ke dalam rumah, menuju ke kamar mandi, lalu mengambil satu gayung penuh air. Kusambar sebuah kotak sabun bekas, lalu kuisi penuh dengan air. Kemudian, aku berlari kembali ke luar.

Melihat aku membawa air, anjing itu berlari ketakutan. Barangkali dipikirnya aku mau mengusirnya. Namun sesaat ia berhenti di kejauhan sambil tetap menatapku. Kotak yang kubawa tadi, kuletakkan begitu saja di depan teras. Stelah itu, aku kembali ke dalam rumah. Setelah dipikirnya aman, anjing itu berbalik, mendekati kotak sabun bekas yang penuh berisi air, lalu menjilatinya sampai kandas.

Itulah Jegger. Pertemuan yang unik itu membuatku penasaran untuk mencari tau siapa pemiliknya. Ternyata, rumah pemiliknya hanya terpisah satu bangunan dengan rumah orang tuaku. Sejak saat itu, hampir setiap siang, Jegger akan selalu bermain ke rumahku untuk sekedar menikmati satu kotak air segar.

Hari pun terus berlalu. Tidak terasa, sudah 3 bulan persahabatanku dengan Jegger terjalin. Kali ini, ia sudah berani masuk ke dalam teras rumah lalu tidur-tiduran di sana sembari menemaniku yang terkantuk-kantuk menikmati hembusan angin siang. Kadang-kadang, ayahku memberinya makan menggunakan sebuah piring kaleng bekas. Menunya, nasi putih diaduk dengan minyak jelantah dan sedikit ikan ataupun tulang ayam. Jika menu ini sudah siap, ayahku akan mengetuk piring kalengnya 3 kali. Suara ketukan kaleng itu ibarat bel makan siang bagi Jegger. Di manapun ia berada, ia pasti akan segera datang sambil berlari-lari kecil melompati pagar rumahku. Waktu makan telah tiba!! Mungkin itu pikirnya.

Yang paling membuatku bahagia adalah Jegger sudah menganggapku seperti tuannya sendiri, bahkan lebih. Setiap pagi, ketika aku berangkat ke sekolah, Jegger akan menemaniku hingga ke jalan besar di depan kompleks, tempatku biasa menunggu Bis Damri. Begitupun ketika aku pulang, ia akan menjemputku di tempat yg sama, dan mengantarku sampai tiba di depan rumah. Coba bayangkan. Betapa bangganya seorang anak kelas 3 SD ketika dikawal oleh seekor anjing yang berlari2 kecil di belakangnya. Apalagi pengawal ini dengan sigap selalu melindungi jika ada gangguan. Ah, rasanya sudah seperti jagoan saja.

Ada juga pengalaman seru. Waktu itu, mangga golek di depan rumahku berbuat lebat. Buahnya ranum dan manis. Siapapun yang melihat pasti tergoda untuk memetiknya. Tak terkecuali anak-anak kecil yang usianya masih sebaya denganku. Sayang, kebanyakan dari mereka lebih suka untuk mencuri ketimbang meminta baik-baik padaku. Kalau sudah seperti itu, jangan salahkan aku jika terpaksa berkomplot dengan Jegger. Begitu anak-anak nakal itu muncul, Jegger kuperintahkan untuk mengejar mereka hingga lari terbirit-birit. Setelah mereka menjauh, Jegger akan berlari ke arahku dengan mata berbinar-binar. “Well done Jegger”, batinku.

Begitulah, tiada hari tanpa Jegger. Meskipun demikian, Jegger seakan tau batasan-batasan di rumahku. Ia tidak pernah sekalipun berani masuk ke dalam rumah. Wilayahnya hanya sebatas teras, tidak lebih. Ia juga tidak pernah buang hajat sembarangan. Bahkan aku sendiri tidak pernah tau, di mana dia melakukan aktivitasnya itu. Dia juga sepertinya mengerti bahwa sebagai penganut ajaran Islam, air liurnya adalah haram. Karena itu, sedekat apapun dia denganku, ia bisa menjaga jarak, agar hidungnya yang basah tidak akan pernah menyentuh kaki ataupun tanganku.

Perubahan pada tampilan Jegger pun semakin terlihat. Tubuhnya perlahan-lahan menjadi berisi. Bulunya pun nampak bersih dan semakin cerah. Namun, tatapan matanya tetap saja sayu, membuatku iba tiap kali melihatnya.

Sebagaimana layaknya kisah dalam roman, segala yang indah tidak pernah bertahan lama. Begitu pula persahabatanku dengan Jegger. Jegger menghilang dalam sebuah perayaan tahun baru. Tidak ada yang tahu, ke mana ia pergi.

Pada hari-hari pertama, beberapa orang justru berburuk sangka terhadap keluargaku. Katanya, mereka sering melihat Jegger bermain di rumahku. Dipikirnya, kami telah meracuni Jegger hingga tewas, lalu secara sembunyi-sembunyi menguburkannya di halaman belakang rumah. Sungguh tuduhan yang tidak beralasan dan tidak masuk akal. Ayahku sampai emosi dibuatnya.

Aku sendiri juga tidak percaya, bagaimana mungkin Jegger hilang dalam semalam tanpa meninggalkan jejak apapun. Hingga aku tamat SD, aku masih yakin bahwa Jegger pasti akan kembali. Aku selalu berlari ke luar setiap kali melihat anjing kampung yang mengais sampah di tong sampah depan rumahku, berharap itu adalah Jegger. Aku masih tetap menyiapkan satu kotak air kegemarannya ketika panas menyengat di siang hari, berharap Jegger akan datang sambil menggoyang-goyangkan ekornya untuk menjilatinya hingga tandas.
Bahkan, piring kaleng tempat ia biasa makan masih kusimpan, buat jaga-jaga jika Jegger pulang kelak.

Sayang, harapanku sia-sia. Saat aku tamat SMP dan harus melanjutkan ke SMA yang letaknya di kota yang berbeda, aku belum pernah sekalipun melihat Jegger. Nampaknya aku harus percaya dan belajar menerima kenyataan. Mungkin ibuku benar. Mungkin Jegger telah tiada. Mungkin Jegger telah bernasib tragis sama seperti nasib yang menimpa Gareng.

Oleh: munggang | 20 April 2009

Kecewa Itu Adalah Pilihan

kcw

Seiring bertambahnya usia, kekecewaan pun semakin sering menghampiri kita. Sampai-sampai, dalam kondisi tertentu kita tidak henti-hentinya merasa kesal, kenapa sih selalu saja kecewa??

Saya pernah membaca sebuah cerita menarik seperti berikut.

Di suatu kota hiduplah seorang wanita malang yang kehilangan penglihatannya semenjak balita. Hidup dalam kegelapan dijalaninya tahun demi tahun tanpa pernah mengeluh. Selama itu pula, ia mampu memaksimalkan fungsi keempat indranya yang lain.

Meskipun bahagia, hati kecilnya seringkali berontak. Ia ingin melihat indahnya dunia. Oleh karenanya, ia tidak pernah berhenti berdoa, memohon kepada Yang Maha Kuasa agar ia bisa mendapatkan kesempatan itu sebelum ajal menjemputnya.

Tuhan mendengar dan mengabulkan doanya. Pada suatu ketika, ada seorang donatur yang bersedia menyumbangkan kedua matanya demi mewujudkan impian wanita tersebut. Sungguh anugrah yang luar biasa. Kesempatan itu telah tiba.Untuk pertama kali dalam lebih dari 20 tahun hidupnya, ia mampu melihat.

Namun, apakah wanita itu menjadi lebih bahagia setelah penglihatannya pulih? Ternyata jawabannya adalah tidak. Ia justru menjadi depresi, sebab apa yang dilihatnya tidak sesuai dengan apa yang dibayangkannya. Selama ini, ia terlanjur mendeskripsikan sendiri berbagai hal di dalam pikirannya. Konflik pun timbul, manakala apa yang ada di pikirannya tidak sesuai dengan apa yang dilihat oleh kedua matanya.

Ia menjadi paranoid. Ia ketakutan melihat rumah yang besar. Ia ketakutan melihat pohon yang seolah-olah berjalan ketika ia berada di dalam kendaraan yang bergerak. Ia ketakutan terhdap hampir setiap hal yang ditemuinya. Ia semakin ketakutan sampai-sampai ia berkeinginan untuk kembali ke dunianya, dunia kegelapan yang telah bersahabat dengan dirinya sejak ia masih kecil.

Apa yang bisa kita petik dari kisah di atas?

1. Kekecewaan muncul ketika apa yang kita hadapi tidak sesuai dengan apa yang diharapkan.

2. Tingkat kekecewaan berbanding lurus dengan harapan yang kita tanamkan.

Dengan demikian, kecewa itu adalah sebuah pilihan. Semakin tinggi harapan kita, semakin tinggi pula kemungkinannya untuk kecewa. Ibarat seekor burung, semakin tinggi ia terbang, semakin sakit rasanya jika ia jatuh.

Mari kita lihat, berapa banyak di sekitar kita, seseorang yang mapan secara materi, memiliki lebih dari satu perusahaan, namun tidak pernah merasa bahagia? Di sisi lain, berapa banyak kita temui, seseorang yang biasa-biasa saja, bukan orang terpandang, namun ke manapun ia berjalan wajahnya tidak pernah lepas dari senyuman?

Nah, sekarang tergantung pilihan anda. Apakah Anda ingin menjadi orang dengan harapan yang tinggi atau menjadi orang dengan harapan yang biasa-biasa saja. Apapun pilihan Anda, pastikan bahwa Anda telah mengenal diri Anda dengan sebaik-baiknya.

Older Posts »

Kategori