Oleh: munggang | 26 Februari 2009

Mental Buruk Membanding-bandingkan

“Tidak ada kemuliaan yang dicapai dengan menjadi lebih baik daripada orang lain. Kemuliaan yang sesungguhnya adalah menjadi lebih baik dari diri kita sebelumnya.” (Pepatah Tiongkok Kuno)

Salah satu kebiasaan buruk masyarakat kita adalah penyakit membanding-bandingkan. Coba perhatikan saat orang bergosip ria. Anda pasti akan mendengarkan orang yang doyan membangga-banggakan dan membanding-bandingkan satu sama lain. Selain itu, beberapa acara di TV juga kentara sekali memamerkan dan membanding-bandingkan satu selebritas dengan selebritas lainnya.
Memang tidak selamanya buruk. Semangat membandingkan dengan orang lain, membuat kita sadar bahwa ada orang yang lebih baik dan lebih berhasil daripada kita. Namun, sikap membanding-bandingkan punya akibat yang buruk bagi perkembangan mental apabila tidak diimbangi dengan mentalitass yang konstruktif.

Pertama, sikap membanding-bandingkan membuat kita seperti “minum dari air laut”. Jadi tidak pernah ada puas2nya, malahan kita semakin kehausan hingga akhirnya kita kelelahan sendiri.

Saya mengenal seorang pria yang selalu berkompetisi dengan kakak dan adiknya. Padahal, secara financial hidupnya sebenarnya pas2an. Namun, demi menjaga gengsi di mata orangtua ataupun adik2nya, dia terus berusaha mengimbangi bahkan melebihi adik dan kakaknya secara material. Akhirnya semua itu membawa dirinya menjadi berutang yang cukup banyak.

Kedua, sikap membanding-bandingkan membuat kita berada dalam sebuah hierarki yang tidak ada putusnya. Saat Anda merasa iri dengan supervisor Anda, mungkin si supervisor Anda pun merasa iri dengan managernya. Lalu si manager iri dengan direkturnya. Si direktur ini pun iri dengan direktur yang lain. Si direktur ini pun iri dengan direktur yang lain. Demikianlah, semua ini tidak pernah ada puasnya.

Ketiga, mentalitas membanding2kan membuat energy emosi kita lebih banyak dihabiskan untuk hal2 yang justru negative. Misalkan saja, melihat rekan atau teman Anda yang lebih berhasil, Anda pun merasa iri, sebel, cemburu, dan marah. Reaksi semacam ini membuat kebanyakan orang justru terjebak dalam energy yang negative, seperti berusaha mencari2 kekurangan orang tersebut. Bahkan, ada yang berusaha mengalahkan dengan cara yang tidak pantas.

Bagaimanakah tipsnya agar kita tidak terjebak dalam sikap membanding2kan yang negative dan akhirnya justru membenamkan potensi diri kita sendiri?

Standar Sendiri

Pertama, bangunlah standar Anda sendiri. “Saya tidak membandingkan diri saya dengan orang lain. Namun, saya punya standar kesempurnaan yang saya kejar terus menerus sepanjang saya masih punya napas”. Itulah semangat yang dikatakan Donald Trump ataupun Andy Groove, orang yang berjasa sekali membesarkan Intel.

Kedua, sadarilah saat Anda membanding-bandingkan diri dengan mereka, mereka pun membanding2kan dengan Anda. Kita akan selalu membanding-bandingkan. Kamu hebat di mana, kamu punya apa, dan setrusnya membentuk suatu daftar panjang yang tidak pernah berhnti. Karena itu, satu2nya cara adalah tidak membanding2kan dan tidak melihat orang lain dengan perasaan iri.

Ketiga, stop membanding2kan dan belajar bersyukur dengan apa yang kita capai saat ini. Selama kita sadar bahwa kita telah berusaha secara maksimal dan inilah yang mampu kita capai, belajarlah bersyukur atas apa yang boleh kita nikmati.
Kita tidak perlu khawatir ataupun risau dengan apa yang mereka miliki. Sejauh kita tetap mengembangkan diri kita, tetap dengan rajin dan gigih mau berjuang, saya percaya kita akhirnya akan menikmati seperti yang orang lain nikmati. Namun, kita tidak boleh merasa iri. Memang, pada akhirnya setiap orang sudah punya path (jalannya) sendiri-sendiri.

Ada yang jalannya lebih cepat, ada yang lebih perlahan. Namun, kita tidak perlu iri apalagi marah dengan ‘rumput tetangga yang lebih hijau’. Belajar terima kondisi ‘rumput’ kita saat ini tetapi rajin2lah merawat dan melihat serta mengembangkan kondisi rumput kita. Mungkin suatu ketika, rumput kita pun akahirnya akan sehijau rumput tetangga. Bahkan, mungkin lebih bagus.

Keempat, kalaupun ingin membanding2kan, bandingkanlah dengan dirimu sendiri. Cobalah lihat apakah kehidupan Anda secara umum ada kemajuan dan perkembangan yang lebih baik? Secara spiritual, financial, karier, emosional, mental, pengetahuan atau hubungan social, bagaimana perkembangannya?
Hal ini akan lebih positif dan lebih baik untuk memotivasi Anda menjalani grafik yang semakin menanjak dalam kehisupan Anda. Di sisi lain, energy yang dipakai juga energy positif.

Akhirya, kalaupun Anda masih terobsesi dengan orang lain, lihatlah bukan dengan kacamata iri, marah ataupun sebel. Namun, dengan kacamata ingin tahu bagaimana caranya Anda bisa mncontoh apa yang mereka lakukan sehingga Anda pun bisa sesukses mereka2 ini. Dengan demikian, cara membandingkan Anda disertai dengan sikap dan emosi yang positif.

Ditulis oleh: Anthony Dio Martin (Trainer, Speaker, EQ Motivator, Ahli Psikologi)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: