Oleh: munggang | 26 Februari 2009

Soichiro Honda

Sukses memiliki definisi yang beranekaragam, bergantung dari sudut mana kita melihatnya. Bagi Soichiro Honda, pendiri Honda Motor Company, sukses merupakan representasi 1% pekerjaan yang dihasilkan dari 99% proses kegagalan.

Kemegahan bisnis Honda saat ini bukanlah hasil dari suatu proses instant. Kemegahan itu dibangun dengan perjuangan, merangkak dari bawah, melewati badai demi badai kegagalan.

Lahir dari sebuah keluarga miskin di Hammatsu, Shizuoka, Jepang pada tahun 1906, Honda kecil memahami akan arti pentingnya etika kerja keras. Kecintaannya terhadap hal-hal berbau mekanis ditularkan oleh ayahnya, seorang pandai besi yang mengeolola bengkel reparasi sepeda.

Pada usia 15 tahun, tanpa pendidikan formal yang memadai, Honda tiba di Tokyo untuk mencari pekerjaan. Dia mendapat pekerjaan memang, di sebuah bengkel bernama Art Shokai. Namun, bukan untuk mengurusi mesin, melainkan menjadi petugas kebersihan merangkap pengasuh bayi anak pemilik bengkel, Kashiwabara.

Namun, semangatnya untuk belajar mesin terus menyala. Dia memanfaatkan waktu saat bengkel tutup untuk sekedar mengamati mesin mobil. Dia kian bersemangat belajar mesin setelah menemukan buku tentang pengapian mesin di perpustakaan. Dia kumpulkan gajinya untuk meminjam buku itu. Sedikit demi sedikit, pengetahuannya tentang mesin bertambah dan suatu hari kesempatan itu datang, unjuk gigi mengurusi mesin mobil.

Majikannya terkagum-kagum ketika dia berhasil memperbaiki mesin mobil Ford model T keluaran 1908. Pada usia 22 tahun, dia dipercaya menjadi kepala bengkel Art di Kota Hamamatsu. Di sana dia selalu menerima pengerjaan reparasi yang ditolak oleh bengkel lain. Setelah enam tahun bekerja, dia memutuskan pulang ke kampong halaman dan mendirikan bengkel sendiri.

Honda mulai menapaki pijakan industrialnya pada 1935 dengan mula-mula memproduksi ring piston untuk mesin2 kecil. Hanya saja, ketika dia tawarkan ke sejumlah pabrik otomotif, hasil karyanya tak dilirik, termasuk oleh Toyota. Ring piston buatannya dianggap tidak lentur. Kegagalan itu membuatnya jatuh sakit cukup serius.
Namun dia segera bangkit. Dia berusaha mendapatkan ilmu tentang ring piston itu dengan kuliah di Sekolah TInggi Hamamatsu, jurusan mesin. Siang hari, sepulang sekolah, dia langsung ke bengkel mempraktikkan pengetahuan yang didapatnya. Hanya saja, karena jarang masuk, dia dikeluarkan dari sekolah setelah dua tahun kuliah.

Berhenti kuliah tak membuatnya putus asa. Kerja kerasnya mulai membawa hasil pada 20 November 1937, ketika Toyota akhirnya menerima ring piston buatan Honda dan memberinya kontrak. Namun batu ujian terus menghampirinya. Dua pabrik ring piston yang didirikannya hangus terbakar.

Bukan Honda namanya bila menyerah. Dia kumpulkan seluruh karyawannya dan memerintahkan mereka mengambil kaleng bekas bensol yang dibuang kapal AS untuk membangun pabrik. Lagi-lagi, ujian kembali datang. Pabrik dibangun, gempa bumi melanda. Tak ada pilihan, dia jual pabriknya ke Toyota pada 1947. Honda kembali ke sepeda dengan kreativitas baru, menempelinya dengan motor kecil. Hasil kreasinya mendapat sambutan positif.

Di bawah bendera Honda Motor Company yang didirikannya pada September 1948, Honda berhsil memproduksi mesin2 kecil untuk digunakan di sepeda motor, lalu memproduksi sepeda motor utuh. Selanjutnya adalah sejarah sukses 1 %.

Kekuatan Honda berasal dari filosofi yang dibangun Soichiro Honda, yaitu menghormati individu dan tiga kebahagiaan: kebahagiaan memproduksi, kebahagiaan menjual dan kebahagiaan membeli. Itu artinya, kebahagiaan yang diharapkan ada pada diri setiap orang bukan semata-mmata kebahagiaan mendapatkan sesuatu, tapi juga (dan yg terpenting) kebahagiaan memberikan sesuatu yang terbaik.

Dirangkum dari tulisan Ary Ginanjar (ESQ) dalam Bisnis Indonesia 2008


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: