Oleh: munggang | 1 April 2009

Belajar Berserah Diri

Kita mungkin sering merasa kecewa, ketika apa yang kita rencanakan dengan susah payah ternyata tidak berhasil sesuai dengan harapan. Saya pun demikian. Sebagai seseorang yang begitu mengagung-agungkan kemampuan otak kiri, saya seringkali hidup terperangkap dalam rencana. Segala sesuatunya dikaitkan dengan angka-angka yang merepresentasikan keberhasilan.

Rencana. Semua orang berpendidikan pasti tidak asing dengan kata ini. Sebelum melakukan berbagai hal, kita seringkali menyusun rencana. Penyusunan rencana biasanya diawali dari brainstorming, dilanjutkan dengan analisa, kesimpulan, lalu diakhiri dengan menetapkan langkah-langkah yang perlu dilakukan agar rencana tersebut bisa terlaksana dalam rentang waktu tertentu.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita pun tidak luput dari rencana. Rencana ini berawal dari angan-angan. Seandainya dapat bonus, seandainya naik pangkat, seandainya mendapat pekerjaan baru yang lebih baik, seandainya berumah tangga dan andai-andai lainnya yang seringkali menghinggapi kepala kita. Kadang-kadang, rencana-rencana itu sedemikian indahnya sampai-sampai kita terbuai seakan-akan sudah menggapai smuanya.

Namun, ketika apa yang kita rencanakan dengan matang itu gagal, kita mulai merasa kecewa. Kita mulai mencari-cari kambing hitam yang menyebabkan gagalnya rencana tersebut. Semuanya jadi korban lampiasan kemarahan, mulai dari diri sendiri, kawan, sahabat, saudara, orangtua bahkan Tuhan pun menjadi sasaran kekecewaan kita.

Kawan, hidup ini penuh dengan misteri. Hidup adalah sebuah objek lateral yang tidak bisa dijalanin oleh orang-orang yang berpikiran linear. Pikiran-pikiran kita yang logis telah mengaburkan kenyataan bahwa dibalik indahnya berbagai rencana yang telah disusun, ada kekuatan lain Yang Maha Besar yang mengatur apapun yang ada di dunia ini. Jika Ia berkehendak, gunung raksasa pun bisa diledakkan-Nya. Namun jika tidak, bahkan selembar pucuk daun rapuh pun tidak akan jatuh dari batangnya.

Sebagai manusia yang dilahirkan di dunia, kita memang diharuskan menyusun rencana. Namun, semakin indah rencana itu, semakin banyak rencana itu, maka bersiap-siaplah untuk semakin kecewa ketika kegagalan yang akhirnya kita dapatkan.

Percayalah, segala sesuatu terjadi karena suatu alasan. Mungkin saat ini kita tidak paham alasan dibalik setiap kegagalan yang kita hadapi. Namun yakinlah, suatu saat, kita akan tersenyum bahagia bahwa ternyata Tuhan sangat sayang terhadap diri kita sehingga menggagalkan rencana kita semula dan memberikan kebahagiaan baru.

Mari kita belajar berserah diri dan memaknai segala kegagalan dengan hati lapang. Tuhan Maha Mengetahui apa-apa yang tidak kita ketahui.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: