Oleh: munggang | 1 April 2009

Belajar Sabar

Kemarin, saat baru kembali dari tugas lapangan, saya mendengar sebuah cerita menarik dari seorang teman. Ternyata, baru saja terjadi perang Barata Yudha antara dua sekretaris di kantor tempat saya bekerja.

Persoalannya sangat sepele. Kedua belah pihak memang salah, namun sebenarnya jikalau masing-masing mau saling mengerti, tentunya pertengkaran tersebut tidak perlu ada.

Cerita berawal ketika salah satu sekretaris, sebut saja A, meminta pertanggungjawaban penggunaan keuangan kantor kepada sebut saja B. Ntah karena lupa atau teledor, B lupa melaporkan hal ini terhadap A. Akibatnya, A pun marah dan mulai menceramahi B melalui telepon. Mungkin karena bosan diceramahi, secara tiba-tiba B menutup telepon dari A. A merasa tersinggung. Tanpa berpikir panjang, dia langsung mendatangi meja B dan mendampratnya. Kontan saja B pun merasa kaget, sakit hati, hingga akhirnya menangis.

Kejadian ini cukup menggemparkan kami semua. Di saat kami benar-benar membutuhkan sebuah ikatan tim yang kuat, di saat yang sama, ikatan itu harus rusak oleh emosi sesaat.

Saya pun teringat dengan berbagai kondisi yang marak terjadi dalam masyarakat kita. Emosi, luapan kemarahan, mudah sekali ditemukan di mana-mana. Hanya gara-gara masalah sepele, lontaran caci maki maupun sumpah serapah dengan mudahnya terucap dari mulut. Cobalah liat di jalan-jalan raya ketika macet. Atau liatlah siaran2 televisi ketika terjadi demo maupun kerusuhan. Betapa emosi tiap-tiap orang semakin sulit dikendalikan, entah itu pria, wanita, tua, muda, kaya maupun miskin. Semuanya sama. Bahkan orang berpendidikan pun rasanya sukar untuk mengendalikan emosinya.

Kawan, mungkin kita sudah melupakan satu hal, bahwa setiap manusia itu memiliki hati. Dan hati ini begitu lembut, begitu peka sehingga ia begitu rapuh ketika dilukai. Kata-kata kasar yang terlontar akibat ketidakmampuan mengendalikan emosi hanyalah akan melukai hati ini. Luka itu akan meninggalkan bekas dan sulit untuk dihilangkan. Bibir boleh mengucapkan maaf, tapi luka dihati tidak.

Yang lebih memprihatinkan lagi adalah orang-orang yang dengan mudahnya mempermainkan hati dan emosi orang lain. Orang-orang yang tertawa saat melihat orang lain bertengkar. Orang-orang yang melakukan provokasi untuk mendapatkan keuntungan sesaat.

Jika sudah demikian, saya sering bertanya-tanya. Ketika kecil, saya pernah diajarkan betapa bangsa ini adalah bangsa yang ramah. Bangsa ini adalah bangsa yang senang mengumbar senyum ketimbang teriakan dan makian. Bangsa ini adalah bangsa yang menjunjung tinggi toleransi dan memiliki empati.
Ke mana mereka sekarang? Apakah sudah habis ditelan oleh kerasnya jaman?

Ah, seandainya setiap orang tahu bahwa sabar adalah kunci segala-galanya. Bahwa sabar itu ibarat air yang dapat memadamkan api kemarahan yang berkobar-kobar.

Memang, belajar sabar itu tidaklah mudah, namun bukan berarti hal yang tidak mungkin. Kita pasti bisa apabila memiliki keyakinan bahwa kita bisa. Karena itu, marilah bersama-sama kita kembali belajar mengendalikan emosi, kembali belajar memahami perasaan orang lain, kembali belajar menjadi manusia seutuhnya yang jauh dari egoisme individu. Sesungguhnya manusia yang kuat bukanlah manusia dengan otot-otot yang besar, namun manusia yang mampu mengendalikan emosinya.

Saya percaya, kesabaran itu ibarat virus positif. Ia akan menyebar, apabila kita konsisten melatih dan menerapkannya. Setiap individu akan menyebarkan ke keluarganya, setiap keluarga akan menyebarkan ke masyarakatnya, dan setiap masyarakat akan menyebarkan ke lingkungannya. Inilah akar dari bangsa yang ramah, bangsa yang saya kenal ketika masih kecil dulu.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: