Oleh: munggang | 3 April 2009

Wajah Surga dan Wajah Neraka

Di sebuah kota, hiduplah seorang pelukis muda yang baru saja lulus dari institut seni termuka. Ia pemuda berbakat yang sedang meniti karir untuk menjadi pelukis professional.

Pada suatu hari, pelukis muda ini ingin membuat gambaran wajah penghuni surga. Wajah ini haruslah bersih, suci, tenang dan tidak mengenal dosa. Demi mendapatkan objek yang sesuai, sang pelukis pun memulai perjalanannya mendatangi sekolah-sekolah agama. Ternyata, tidak terlalu sulit untuk menemukannya. Selang beberapa lama, ia telah mendapatkan beberapa kandidat yg masuk dalam kriteria. Setelah melakukan seleksi, pilihannya pun jatuh pada seorang bocah, berusia sekitar 12 tahun. Bocah ini berwajah bulat, matanya jernih, kulitnya bersih, pembawaannya tenang dan bicaranya sopan. Ia benar-benar menunjukkan wajah surga.

Sang pelukis mengutarakan niatnya kepada bocah itu. Si bocah bersedia untuk menjadi objek lukisan. Sebagai anak yang baik, ia meminta ijin kepada orangtua dan gurunya terlebih dahulu.

Sang pelukis memperkirakan bahwa ia membutuhkan waktu sekitar satu hari bersama si bocah untuk menyelesaikan sketsa awal. Setelah itu, ia tinggal melakukan finishing akhir.

Ibarat model professional, si bocah pun menuruti instruksi dari sang pelukis. Ia lebih banyak diam dan tidak menuntut terlalu banyak. Sesuai dengan prediksi semula, sketsa awal dapat diselesaikan dengan lancar dalam waktu sehari. Sebagai ucapan terimakasih, sang pelukis memberikan beberapa buku bacaan dan sejumlah uang jajan kepada si bocah.

Sang pelukis membutuhkan waktu 3 hari lagi untuk finishing.Ia benar-benar merasa puas. Jerih payahnya membuahkan hasil. Lukisan tersebut membawa decak kagum dalam suatu pameran lukisan yang digelarnya. Ratusan pengunjung mengakui, wajah si bocah yang menjadi model lukisan itu benar-benar menunjukkan wajah surga yang didamba-dambakan setiap orang.

Karir sang pelukis terus menanjak. Ia semakin terkenal dan galeri-galerinya dikunjungi ribuan orang. Hingga suatu ketika terjadi musibah. Di tengah karirnya yang memuncak, negara mengalami krisis keuangan yang sangat akut. Hal ini berimbas ke kota tempat ia bermukim. Kehidupan menjadi semakin sulit. Pekerjaan sebagai pelukis pun sudah tidak menjanjikan lagi. Akhirnya, sang pelukis bergonta-ganti pekerjaan. Menjadi buruh, tukang, pemulung hingga pengemis pun dilakoninya demi menyambung hidup.

Krisis yang sangat hebat itu membutuhkan waktu cukup lama untuk pulih. Ketika keadaan mulai membaik, usia sang pelukis pun sudah menua. Beberapa helai uban menghiasi rambutnya. Kehidupannya pun semakin jauh dari dunia seni. Ia telah berganti profesi menjadi tukang tambal ban di pinggir-pinggir jalan. Kondisi ini terus berlangsung sampai akhirnya salah satu pelanggannya mengenali siapa dirinya sebenarnya.

Sang pelanggan ini adalah seorang pengusaha muda. Ia adalah putra kolektor lukisan terkemuka yang baru saja meninggal dunia. Salah satu lukisan milik sang ayah yang dikaguminya adalah lukisan berjudul wajah surga. Ia begitu bahagia karena akhirnya menemukan sang maestro pelukis lukisan tersebut setelah hilang dari dunia seni dalam kurun waktu yang cukup lama.

Sang pelukis diundangnya untuk datang ke rumah pengusaha tersebut. Di sana, ia ditunjukkan puluhan koleksi yang ada. Hatinya begitu menggebu-gebu. Semangatnya bangkit, darah seninya bergolak. Lukisan-lukisan itu telah memanggil-manggil namanya, menarik-narik lengannya untuk kembali menghasilkan berbagai karya dahsyat lainnya.

Sang pengusaha mampu membaca romans mukanya. Dengan bijak, ia menawarkan diri untuk menjadi sponsor sebuah acara kembalinya sang maestro di dunia seni. Sebuah pameran tunggal yg menampilkan berbagai lukisan yang pernah dibuatnya beserta serangkaian karya-karya baru miliknya. Syaratnya hanya satu, sang pengusaha ingin agar salah satu lukisan barunya bertemakan wajah neraka. Lukisan ini harus menunjukkan ciri-ciri yang bertolak belakang dengan wajah surga. Ia harus mampu menunjukkan raut wajah bengis, kejam, dengki, sirik dan penuh dendam.  Berapapun biaya yang dibutuhkan untuk menciptakan karya ini, akan ditanggung oleh sang pengusaha. Sang pelukis menerima tantangan ini.

Hari-hari pertama dihabiskan sang pelukis untuk mencari tokoh dengan karakter yang sesuai. Beraneka bar, rumah-rumah bordir, sarang-sarang judi hingga penjara telah dimasukinya. Namun hasilnya nihil. Satu minggu, dua minggu bahkan hingga tiga minggu telah dilalui, namun ia tidak berhasil juga menemukan karakter yang pas.

Memasuki minggu keempat, ia berhasil menemukan tokoh yg dimaksud. Tokoh ini sedang menjambret tas seorang wanita di ujung jalan ketika itu. Dikejarnya tokoh ini, hingga ia mengetahui tempat kediamannya.
Perjuangan tidak berhenti sampai di sini. Untuk membujuk sang penjambret agar mau menjadi model tidaklah mudah. Ia memkinta harga yang sangat mahal. Melalui negosisasi yang sangat alot, akhirnya tercapailah kesepakatan. Itupun untuk waktu yang sangat singkat. Ia hanya mau menjadi model selama maksimal 2 jam. Sang pelukis menuruti kemauannya.

Ternyata, sang pelukis tidak membutuhkan waktu yang lama untuk menyelesaikan sketsa dasarnya. Kurang dari 2 jam, semuanya beres. Meskipun telah dibayar, si penjambret meminta tambahan untuk membeli miras. Di bawah ancaman pisau, sang pelukis kembali menuruti permintaan penjambret tersebut.

Akhirnya, lahirlah lukisan yang berjudul wajah neraka. Bekas luka di kening wajah tersebut semakin memperjelas bahwa orang seperti dia memang pantas untuk masuk ke dalam neraka. Sang pengusaha puas dengan hasil yg didapat.

Pameran dengan tema kembalinya sang maestro menjadi buah bibir begitu banyak orang. Ribuan orang memadatinya untuk menikmati puluhan koleksi yang ada. Lukisan wajah neraka disandingkan dengan wajah surga. Kedua lukisan ini terbukti menjadi daya tarik di antara koleksi-koleksi lainnya. Ketika pengunjung melihat wajah surga, begitu banyak pujian yang dilontarkan. Namun ketika mereka memalinghkan pandangan ke wajah neraka, serangkaian caci dan sumpah serapah dilontarkan. Kedua lukisan itu telah membawa auranya masing.

Di hari terakhir pameran, ketika semua orang telah pulang, sang pelukis kembali menatap kedua hasil karyanya: wajah surga dan wajah neraka. Ditatapnya tajam-tajam secara bergantian. Tiba-tiba, ia merinding. Setelah disaksikan lamat-lamat, nampak ada goresan-goresan yg mirip dari kedua lukisan tersebut. Keringat dingin mulai mengalir. Goresan tulang-tulang wajah, kedua bola mata dan hidung kedua lukisan itu sama. Ia tersadar, itulah sebabnya mengapa ia mampu menyelesaikan lukisan wajah neraka jauh lebih cepat dari perkiraannya semula, seakan-akan ia pernah melukisnya sebelumnya. Ya, karena pada kenyataannya, ia memang pernah melukis tokoh tersebut sebelumnya. Wajah surga dan wajah neraka dilukis dari tokoh yang sama.

Sang pelukis mencoba membuktikan hipotesanya. Ia kembali mengunjungi sekolah agama tempat sang wajah surga dulu pernah bersekolah. Setelah bertanya kepada pengurus sekolah yang ada, ia menemukan fakta bahwa sang wajah surga mengenyam pendidikan di situ hanya hingga sekolah lanjutan pertama. Setelah itu ia melanjutkan pendidikan ke sekolah lanjutan atas umum. Setelah mendapatkan nama sekolah yang dimaksud, sang pelukis kembali meneruskan penelusurannya. Akhirnya, ia pun mendapat informasi bahwa di akhir tahun kedua, sang wajah surga meninggalkan bangku pendidikannya di sekolah lanjutan atas. Ia terlibat perkelahian dan kasus minuman keras akibat pergaulan yang tidak benar. Setelah itu, kabarnya pun hilang. Seiring hilangnya kabar sang wajah surga, muncullah kabar kejahatan yang dilakukan sekelompok remaja yang meresahkan masyarakat. Diperkirakan sang wajah surga terlibat dalam kelompok ini, meskipun ia selalu lolos dari sergapan polisi. Karena kelihaian para anggotanya, kelompok ini tetap eksis dan sulit untuk ditaklukkan.

Sang pelukis pun sadar. Pertemuan pertamanya dengan sang wajah surga terjadi 20 tahun yg lalu. Dua puluh tahun adalah waktu yang lama. Dalam dua puluh tahun ini, begitu banyak hal yg bisa terjadi. Seseorang dengan wajah surga telah bermetamorfosis menjadi wajah neraka karena lingkungan dan ketidakmampuan memlih teman pergaulan.

Berhati-hatilah dengan temanmu saat ini. Karena itu akan menunjukkan siapa dirimu di masa yg akan datang.

Sebuah cerita fiksi, disadur seingatnya dari majalah Bobo jaman kecil dulu.


Responses

  1. unpredictable!!

    happened suddenly, never thought before..

  2. gang, beneran nih dari majalah bobo??
    Maknanya banyak banget.
    Iya sih gang, kta emang wajib berhati2 dengan teman kta sekarang… (speechless)
    Ayo gang smangat nulis lg!

  3. Beneran kok Ira, cuman emang saya ubah-ubah dikit. Yang jelas inti ceritanya sama…

  4. Cerita yg bgitu bermakna,skali baca saya dpt mengingatnya dan menuai hikmahnya.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: