Oleh: munggang | 7 April 2009

Merubah Diri Sendiri

orang

Berapa banyak di antara kita yang sering tidak puas dengan lingkungan tempat kerja kita? Entah itu karena atasan yang buruk, beban kerja yang terlalu berat ataupun imbal balik dari perusahaan yang kurang pantas? Tidak sedikit yang mencari solusi dengan berpindah-pindah tempat kerja. Namun sayangnya, situasi yang didapatkan pun tidak jauh berbeda. Lagi-lagi kita merasa kecewa karena ternyata di mana-mana kondisinya sama. Kalau sudah demikian, apa dan siapa sih yang salah sebenarnya?

Sebelum menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, saya teringat sebuah kisah yang cukup menarik. Ceritanya sebagai berikut.

…………………………………………………………………………………………………………

Pada jaman dahulu kala, hiduplah seorang raja. Ia memimpin sebuah wilayah yang luas, yang terletak di antara 2 lembah dan diapit oleh sungai-sungai yang kaya akan ikan. Padang-padang rumputnya subur, sehingga berbagai macam ternak bisa hidup dan berkembang biak. Masyarakatnya hidup dengan rukun dan tentram. Perdagangan berjalan dengan lancar, terbukti dari banyaknya pasar yang tersebar di seluruh wilayah kerajaan. Dengan kondisi yang demikian makmurnya, sang raja lebih banyak menghabiskan waktunya di dalam istana.

istana

Entah karena alasan apa, suatu ketika, sang raja mendadak ingin berjalan-jalan melihat seluruh wilayah kekuasaannya. Dipanggilnya sang perdana menteri untuk menemaninya berkeliling. Pasukan pengawal pun segera disiapkan berikut tandu dan berbagai panji-panji kerajaan.

Tak berapa lama setelah meninggalkan istana, rombongan kerajaan tiba di sebuah pasar. Pasar ini cukup ramai oleh pedagang dan pembeli. Berbagai barang ditawarkan di sana. Sang raja merasa tertarik. Timbul keinginan untuk berinteraksi langsung dengan rakyatnya. Ia turun dari tandu lalu berjalan mengelilingi pasar. Namun ia merasa kecewa. Beberapa bagian dari pasar itu ternyata becek sehingga mengotori kaki sang raja, sementara beberapa bagian lainnya berupa bebatuan yang menyebabkan nyeri di kakinya.

Dengan wajah masam, sang raja segera naik ke tandu dan meminta kembali ke istana. Ia menegur sang perdana menteri yang dianggapnya tidak becus mengurusi pasar tadi. Karena itu, ia meminta agar dalam waktu seminggu, seluruh tanah di pasar itu harus sudah ditutup dengan kulit sapi agar lembut dan nyaman ketika dipijak.

Sang perdana menteri kelabakan. Segera dipanggilnya seluruh pedagang kulit di wilayah kerajaan untuk menawarkan kulit-kulit terbaik mereka. Setelah itu, kulit-kulit tadi dianyam dan dihamparkan di setiap jalan-jalan yang ada di pasar. Tepat seminggu, proyek ini selesai.

Sang raja merasa puas. Ketika ia berjalan-jalan lagi mengelilingi pasar, kakinya merasa nyaman dan tidak kotor. Namun saat ia keluar dari pasar untuk meneruskaan perjalanan ke tempat selanjutnya, lagi-lagi ia kecewa. Ternyata kondisi jalannya masih buruk, sama seperti kondisi jalan di pasar sebelum ditutupi kulit sapi.

Lagi-lagi ditegurnya sang perdana menteri. Kali ini ia meminta agar setiap jalan yang ada di seluruh pelosok negeri ditutup dengan kulit sapi. Jikalau sang perdana menteri tidak mampu memenuhi permintaan ini maka nyawanya yang menjadi taruhannya.

Sang perdana menteri pun semakin kelabakan. Kembali diundangnya para pedagang kulit untuk memborong seluruh stok kulit mereka. Sayangnya, setelah kulit-kulit itu dianyam, jumlahnya masih belum mencukupi untuk menutup seluruh jalan yang ada. Tanpa kehabisan akal, sang perdana menteri mencoba menghubungi pedagang kulit dari kerajaan tetangga. Namun, kulit-kulit yang tersedia masih juga belum mencukupi.

Setelah berbagai upayanya gagal, sang perdana menteri mencoba cara yang lebih ekstrim. Setiap sapi yang ada di kerajaan diwajibkan untuk disembelih dan diambil kulitnya. Tentara kerajaan dikerahkan untuk memaksa tiap-tiap penduduk. Kehidupan yang semula aman dan tenteram mulai menimbulkan gejolak. Beberapa rakyat mulai melakukan perlawanan sebab merasa dirugikan.

Ketika tidak ada lagi sapi yang bisa disembelih, kebutuhan kulit masih juga belum bisa terpenuhi. Masalah semakin bertambah dengan semakin banyaknya kelompok-kelompok masyarakat yang merasa kecewa. Sang perdana meteri mulai putus asa. Apalagi ketika sang raja menanyakan progress proyek tersebut dan ingin mengecek langsung kondisi di lapangan.

Dalam suatu pengecekan, sang perdana menteri hanya bisa menemani sang raja dengan keringat dingin. Mulutnya tidak henti2nya merapal doa, berharap sang raja merasa lelah dan segera kembali ke istana sebelum menemukan pekerjaan potongan-potongan jalan yang belum selesai. Sayang, Tuhan sepertinya enggan mengabulkan doanya. Setelah seharian berkeliling, tibalah mereka pada potongan jalan yang masih rusak, yang belum ditutupi oleh kulit sapi. Sang raja pun murka. Apalagi ketika melihat sendiri hamparan luas jalan yang masih terbuka.

Sang perdana menteri hanya bisa berlutut. Ia benar-benar pasrah jika nyawanya harus hilang pada hari itu juga.

Tidak jauh dari situ, ada seorang pemuda tanggung yang menyaksikan adegan antara sang raja dengan perdana menteri. Tanpa berucap sepatah katapun, ia mengambil belatinya lalu memotong sebagian kecil dari hamparan kulit yang menutup jalan. Potongan itu dijadikan 2 bagian dan dipasang tali di tiap-tiap bagiannya. Kemudian, dengan penuh hormat, ia menggunakan kedua potongan kulit itu untuk menutup kaki sang raja. Sang raja kaget, namun karena tindak tanduk pemuda itu yang sopan, dibiarkannya pemuda tadi menyelesaikan pekerjaannya.

Setelah kedua kaki sang raja tertutup kulit dengan sempurna, pemuda itu mengajak sang raja untuk berjalan-jalan. Sang raja merasa gembira, kedua kakinya terasa nyaman. Bahkan ketika ia harus menyusuri jalan yang rusak sekalipun. Percaya atau tidak, di situlah asal mula terciptanya sepatu.

Akhirnya, nyawa sang perdana menteri pun terselamatkan sebab solusi untuk melindungi kaki sang raja telah ditemukan.

river1

………………………………………………………………………………………………………….

Dari kisah di atas, kita bisa memetik satu pelajaran berharga. Ketika kita dihadapkan pada sebuah lingkungan yang tidak bersahabat, akan sia-sia dan menghabiskan energi belaka jika kita terus-terusan memaksa untuk merubah lingkungan tersebut. Jauh lebih bijak jika kita yang sebaiknya merubah diri kita sendiri. Tentunya perubahan ini adalah perubahan yang positif. Perubahan bisa diawali dari pikiran, diikuti oleh sikap dan dilaksanakan melalui perbuatan.

Nah, bagaimana dengan bos yang galak? Beban kerja yang berat? Kompensasi yang rendah? Apakah kita mau terus-terusan berlari dan menghindar? Atau justru mau adu tegang-tegangan urat saraf?

Bos yang galak jika setiap makiannya dibalas dengan senyum tentunya juga akan luluh. Beban kerja yang berat jika dihadapi dengan hati yang gembira tentunya akan terasa ringan. Kompensasi yang rendah jika diterima dengan ikhlas tentunya akan membawa keberkahan.

Mari kita merubah diri kita ke arah yang lebih baik.


Responses

  1. jadi inget pernah baca cerita serupa tentang gimana seorang manager di suatu perusahaan sabun terkenal menggunakan sensor canggih yang mahal untuk mendeteksi apakah kotak sabun pada saat packaging itu kosong atau tidak, sementara di sebuah perusahaan sabun yang kecil, manager produksinya hanya menggunakan kipas angin..^^

  2. Kalo suasana emang ga kondusif dan sudah tidak bisa dipaksakan lagi…..cari tempat kerja baru :D….mungkin memang kita dibimbing oleh tangan yang tidak tampak ke tempat kerja yang lebih baik :)….insyaAllah….wallahualam…:)

  3. wah dapat ilmu baru nih dari sini. Yang lain isinya informasi tentang masalah dan ini baru informasi masalah dan cara pemecahannya. Thanks


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: