Oleh: munggang | 20 April 2009

Kecewa Itu Adalah Pilihan

kcw

Seiring bertambahnya usia, kekecewaan pun semakin sering menghampiri kita. Sampai-sampai, dalam kondisi tertentu kita tidak henti-hentinya merasa kesal, kenapa sih selalu saja kecewa??

Saya pernah membaca sebuah cerita menarik seperti berikut.

Di suatu kota hiduplah seorang wanita malang yang kehilangan penglihatannya semenjak balita. Hidup dalam kegelapan dijalaninya tahun demi tahun tanpa pernah mengeluh. Selama itu pula, ia mampu memaksimalkan fungsi keempat indranya yang lain.

Meskipun bahagia, hati kecilnya seringkali berontak. Ia ingin melihat indahnya dunia. Oleh karenanya, ia tidak pernah berhenti berdoa, memohon kepada Yang Maha Kuasa agar ia bisa mendapatkan kesempatan itu sebelum ajal menjemputnya.

Tuhan mendengar dan mengabulkan doanya. Pada suatu ketika, ada seorang donatur yang bersedia menyumbangkan kedua matanya demi mewujudkan impian wanita tersebut. Sungguh anugrah yang luar biasa. Kesempatan itu telah tiba.Untuk pertama kali dalam lebih dari 20 tahun hidupnya, ia mampu melihat.

Namun, apakah wanita itu menjadi lebih bahagia setelah penglihatannya pulih? Ternyata jawabannya adalah tidak. Ia justru menjadi depresi, sebab apa yang dilihatnya tidak sesuai dengan apa yang dibayangkannya. Selama ini, ia terlanjur mendeskripsikan sendiri berbagai hal di dalam pikirannya. Konflik pun timbul, manakala apa yang ada di pikirannya tidak sesuai dengan apa yang dilihat oleh kedua matanya.

Ia menjadi paranoid. Ia ketakutan melihat rumah yang besar. Ia ketakutan melihat pohon yang seolah-olah berjalan ketika ia berada di dalam kendaraan yang bergerak. Ia ketakutan terhdap hampir setiap hal yang ditemuinya. Ia semakin ketakutan sampai-sampai ia berkeinginan untuk kembali ke dunianya, dunia kegelapan yang telah bersahabat dengan dirinya sejak ia masih kecil.

Apa yang bisa kita petik dari kisah di atas?

1. Kekecewaan muncul ketika apa yang kita hadapi tidak sesuai dengan apa yang diharapkan.

2. Tingkat kekecewaan berbanding lurus dengan harapan yang kita tanamkan.

Dengan demikian, kecewa itu adalah sebuah pilihan. Semakin tinggi harapan kita, semakin tinggi pula kemungkinannya untuk kecewa. Ibarat seekor burung, semakin tinggi ia terbang, semakin sakit rasanya jika ia jatuh.

Mari kita lihat, berapa banyak di sekitar kita, seseorang yang mapan secara materi, memiliki lebih dari satu perusahaan, namun tidak pernah merasa bahagia? Di sisi lain, berapa banyak kita temui, seseorang yang biasa-biasa saja, bukan orang terpandang, namun ke manapun ia berjalan wajahnya tidak pernah lepas dari senyuman?

Nah, sekarang tergantung pilihan anda. Apakah Anda ingin menjadi orang dengan harapan yang tinggi atau menjadi orang dengan harapan yang biasa-biasa saja. Apapun pilihan Anda, pastikan bahwa Anda telah mengenal diri Anda dengan sebaik-baiknya.


Responses

  1. kenapa kecewa harus menjadi pilihan?

  2. jangan jadikan kenyataan yg ga sesuai harapan itu sbg kekecewaan bang, tapi tantangan. Jadi yg ada bukan gagal dan sukses, tapi sukses dan belum sukses. (tssaaah)

  3. bukan hanya kecawa, tapi juga semua yang ada didunia iniadalah sebuah pilihan, hasilnya akan membawa kita ke suatu hal yang disebut konsekuensi..

  4. Kecewa itu melatih kita untuk semakin kuat dan tegar menghadapi dan menerima kenyataan2 hidup yang sering kali tidak sesuai dengan impian dan harapan2 kita

  5. Wise bangettttt…..I LIKE IT MUCH.

  6. setuju, dengan kata kecewa adalah pilihan…, karena kecewa kita bs lebih belajar, agar pengalaman ini tidak terulang lagi.., temans belajarlah dari pengalaman dan berhati-hati dalam bertindak…salam sukses dari ku…

  7. expect less…..give more…..🙂 …..Good job gang….menginspirasi….setuju


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: