Oleh: munggang | 4 Mei 2009

Kisah si Jegger

Aku memanggilnya Jegger. Sama seperti nama yang diberikan oleh pemilik aslinya. Dia seekor anjing kampung betina, berwana coklat muda dengan kombinasi putih di bulunya.

Jegger bukan milik keluargaku. Dia adalah seekor anjing milik salah satu tetangga yang berasal dari Toraja.

Sebagai keluarga Muslim, memelihara seekor anjing tentu hanya akan menjadi buah bibir bagi para tetangga. Meskipun ternyata jauh sebelum aku lahir, kedua orang tuaku pernah memiliki seekor anjing tampan nan kekar bernama Gareng. Ntah kenapa ia dinamakan Gareng. Apakah karena ayahku seorang penggemar wayang? Entahlah. Yang jelas, aku hanya mengenal Gareng melalui foto, saat ia asyik bersantai di atas lantai rumahku. Ia telah menjadi bagian keluarga kami sejak masih bayi. Satu cerita yang masih tidak dapat kupercaya mengenai Gareng adalah keengganannya untuk makan daging. Makanan sehari-harinya cukup roti dan susu. Kata ayahku, mungkin karena hanya dua jenis makanan tersebutlah yang dikenalnya sejak kecil.

Sepertinya banyak hal menarik dari seekor gareng. Setidaknya itu yang kudengar dari cerita ibuku. Mulai dari sifat konfrontasinya terhadap pamanku yang waktu itu masih tinggal serumah dengan orang tuaku hingga keisengannya untuk menggoda anak kecil yang beli jajanan di warung ibuku. Sampai pada suatu ketika, di malam tahun baru, Gareng tiba2 menghilang tak tau rimbanya. Kata beberapa orang Gareng diculik, dibunuh dan dagingnya dimakan. Tragis sekali.

Kembali ke Jegger. Perkenalanku dengannya berawal dari ketidaksengajaan. Saat itu, aku masih kelas 3 SD. Seperti biasa, selepas pulang sekolah, aku paling senang bermalas-malasan di teras rumah yang adem oleh rimbunnya daun pohon mangga golek tua. Apalagi, suasana siang hari biasanya sepi. Ah, sekali angin bertiup, matapun langsung terkatup.

Tiba-tiba dari ujung seberang jalan, seekor anjing kurus berlari-lari kecil menuju ke rumahku. Aku membiarkannya begitu saja, toh di kompleks perumahan kami memang banyak anjing yang berkeliaran. Aku hanya menatapnya. Tiba-tiba, anjing itu berhenti lalu membalas tatapanku. Matanya begitu sayu. Pelan-pelan, ia menghampiri pintu teras, mendekati sebuah pot bunga milik ibuku dan menjilat-jilat air yang menetes di bawahnya. Air sisa siraman bunga milik ibuku. Ia menjilatnya dengan rakus. Rakus sekali. Sepertinya ia kehausan.

Karena kasihan, akupun masuk ke dalam rumah, menuju ke kamar mandi, lalu mengambil satu gayung penuh air. Kusambar sebuah kotak sabun bekas, lalu kuisi penuh dengan air. Kemudian, aku berlari kembali ke luar.

Melihat aku membawa air, anjing itu berlari ketakutan. Barangkali dipikirnya aku mau mengusirnya. Namun sesaat ia berhenti di kejauhan sambil tetap menatapku. Kotak yang kubawa tadi, kuletakkan begitu saja di depan teras. Stelah itu, aku kembali ke dalam rumah. Setelah dipikirnya aman, anjing itu berbalik, mendekati kotak sabun bekas yang penuh berisi air, lalu menjilatinya sampai kandas.

Itulah Jegger. Pertemuan yang unik itu membuatku penasaran untuk mencari tau siapa pemiliknya. Ternyata, rumah pemiliknya hanya terpisah satu bangunan dengan rumah orang tuaku. Sejak saat itu, hampir setiap siang, Jegger akan selalu bermain ke rumahku untuk sekedar menikmati satu kotak air segar.

Hari pun terus berlalu. Tidak terasa, sudah 3 bulan persahabatanku dengan Jegger terjalin. Kali ini, ia sudah berani masuk ke dalam teras rumah lalu tidur-tiduran di sana sembari menemaniku yang terkantuk-kantuk menikmati hembusan angin siang. Kadang-kadang, ayahku memberinya makan menggunakan sebuah piring kaleng bekas. Menunya, nasi putih diaduk dengan minyak jelantah dan sedikit ikan ataupun tulang ayam. Jika menu ini sudah siap, ayahku akan mengetuk piring kalengnya 3 kali. Suara ketukan kaleng itu ibarat bel makan siang bagi Jegger. Di manapun ia berada, ia pasti akan segera datang sambil berlari-lari kecil melompati pagar rumahku. Waktu makan telah tiba!! Mungkin itu pikirnya.

Yang paling membuatku bahagia adalah Jegger sudah menganggapku seperti tuannya sendiri, bahkan lebih. Setiap pagi, ketika aku berangkat ke sekolah, Jegger akan menemaniku hingga ke jalan besar di depan kompleks, tempatku biasa menunggu Bis Damri. Begitupun ketika aku pulang, ia akan menjemputku di tempat yg sama, dan mengantarku sampai tiba di depan rumah. Coba bayangkan. Betapa bangganya seorang anak kelas 3 SD ketika dikawal oleh seekor anjing yang berlari2 kecil di belakangnya. Apalagi pengawal ini dengan sigap selalu melindungi jika ada gangguan. Ah, rasanya sudah seperti jagoan saja.

Ada juga pengalaman seru. Waktu itu, mangga golek di depan rumahku berbuat lebat. Buahnya ranum dan manis. Siapapun yang melihat pasti tergoda untuk memetiknya. Tak terkecuali anak-anak kecil yang usianya masih sebaya denganku. Sayang, kebanyakan dari mereka lebih suka untuk mencuri ketimbang meminta baik-baik padaku. Kalau sudah seperti itu, jangan salahkan aku jika terpaksa berkomplot dengan Jegger. Begitu anak-anak nakal itu muncul, Jegger kuperintahkan untuk mengejar mereka hingga lari terbirit-birit. Setelah mereka menjauh, Jegger akan berlari ke arahku dengan mata berbinar-binar. “Well done Jegger”, batinku.

Begitulah, tiada hari tanpa Jegger. Meskipun demikian, Jegger seakan tau batasan-batasan di rumahku. Ia tidak pernah sekalipun berani masuk ke dalam rumah. Wilayahnya hanya sebatas teras, tidak lebih. Ia juga tidak pernah buang hajat sembarangan. Bahkan aku sendiri tidak pernah tau, di mana dia melakukan aktivitasnya itu. Dia juga sepertinya mengerti bahwa sebagai penganut ajaran Islam, air liurnya adalah haram. Karena itu, sedekat apapun dia denganku, ia bisa menjaga jarak, agar hidungnya yang basah tidak akan pernah menyentuh kaki ataupun tanganku.

Perubahan pada tampilan Jegger pun semakin terlihat. Tubuhnya perlahan-lahan menjadi berisi. Bulunya pun nampak bersih dan semakin cerah. Namun, tatapan matanya tetap saja sayu, membuatku iba tiap kali melihatnya.

Sebagaimana layaknya kisah dalam roman, segala yang indah tidak pernah bertahan lama. Begitu pula persahabatanku dengan Jegger. Jegger menghilang dalam sebuah perayaan tahun baru. Tidak ada yang tahu, ke mana ia pergi.

Pada hari-hari pertama, beberapa orang justru berburuk sangka terhadap keluargaku. Katanya, mereka sering melihat Jegger bermain di rumahku. Dipikirnya, kami telah meracuni Jegger hingga tewas, lalu secara sembunyi-sembunyi menguburkannya di halaman belakang rumah. Sungguh tuduhan yang tidak beralasan dan tidak masuk akal. Ayahku sampai emosi dibuatnya.

Aku sendiri juga tidak percaya, bagaimana mungkin Jegger hilang dalam semalam tanpa meninggalkan jejak apapun. Hingga aku tamat SD, aku masih yakin bahwa Jegger pasti akan kembali. Aku selalu berlari ke luar setiap kali melihat anjing kampung yang mengais sampah di tong sampah depan rumahku, berharap itu adalah Jegger. Aku masih tetap menyiapkan satu kotak air kegemarannya ketika panas menyengat di siang hari, berharap Jegger akan datang sambil menggoyang-goyangkan ekornya untuk menjilatinya hingga tandas.
Bahkan, piring kaleng tempat ia biasa makan masih kusimpan, buat jaga-jaga jika Jegger pulang kelak.

Sayang, harapanku sia-sia. Saat aku tamat SMP dan harus melanjutkan ke SMA yang letaknya di kota yang berbeda, aku belum pernah sekalipun melihat Jegger. Nampaknya aku harus percaya dan belajar menerima kenyataan. Mungkin ibuku benar. Mungkin Jegger telah tiada. Mungkin Jegger telah bernasib tragis sama seperti nasib yang menimpa Gareng.


Responses

  1. jegger?
    hmm namanya bukan heli guk guk guk..

    apa mau gue head hunt deh tuh jegger, gimana?
    tapi gak gratis, levelnya junior ato senior nii
    halah..hahahhahah
    ada2 aja..but good story!!

  2. bang..ini nulis sendiri? bagus bang..keren😀

  3. Bukan saya yang kasih nama Mel. Mungkin kalo Heli terlalu pasaran buat nama seekor anjing …😀

  4. Ntar ketemu lagi sm Jegger dan Gareng di sorga, hi33…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: