Oleh: munggang | 10 Oktober 2009

Beratnya Menjadi Orang Jujur

buku%20HOEGENG

Beberapa waktu yang lalu saya membeli sebuah buku di gramedia Grand Indonesia. Kebetulan saat itu sedang ada diskon 30% all item. Judul buku yang saya beli cukup menarik: Hoegeng, Oase Menyejukkan di Tengah Perilaku Koruptif Para Pemimpin Bangsa. Saya tertarik, sebab buku ini mengulas seorang sosok langka yang tidak ada tandingannya dalam sejarah republik kita.

Siapa yang tidak mengenal Hoegeng? Mantan Kapolri yang sederhana, dan jujur ini telah menjadi legenda. Bahkan, seringkali muncul gurauan mengenai beliau. Di Indonesia hanya ada 3 polisi yang tidak bisa disogok: patung polisi, polisi tidur, dan Hoegeng.

Saya pertama kali mengenal sosok Hoegeng, ketika membaca biografinya di perpustakaan kampus saat masih kuliah dulu. Namun sayang, buku yang terbit di tahun 1993 tersebut lebih menceritakan kehidupan Hoegeng ketika kecil, dewasa, hingga menjabat sebagai Kapolri. Cerita-cerita setelah beliau “dipensiunkan” lalu ikut menandatangani Petisi 50 tidak banyak diungkapkan. Mungkin disengaja akibat tingginya tekanan penguasa pada saat itu. Untunglah, buku kecil yang saya beli ini, selain menceritakan sekilas perjalanan hidup Hoegeng, juga memuat beberapa kisah yang tidak mungkin diterbitkan pada masa Orde Baru dulu. Sejumlah testimoni dari beberapa teman dekat beliau turut memberikan nilai tambah tersendiri.

hoegeng_youngSaya tidak bermaksud membahas lebih dalam mengenai isi buku tersebut. Saya hanya ingin mengulas bagaimana seorang Hoegeng bisa bertahan di tengah kesulitan menghadapi tekanan-tekanan yang ada ketika beliau memposisikan kejujuran, kesederhanaan dan kerendah hatian sebagai panglima dalam sikap hidupnya sehari-hari.

Saat ini, cukup banyak kalangan elit di negara kita yang menyuarakan kata-kata “bersih” dan “anti korupsi” sebagai dagangan politik. Namun, hanya sedikit, atau bahkan boleh dibilang nyaris tidak ada, yang benar-benar menerapkannya dalam suatu tindakan nyata. Korupsi benar-benar telah melembaga, sehingga sebersih apapun orangnya jika masuk dalam sistem yang ada, sadar ataupun tidak, akan terlibat korupsi.

Dibentuknya lembaga KPK tidak dapat menjamin korupsi akan mudah untuk diberantas. Apalagi saat kewenangan KPK mulai dipreteli secara perlahan. Budaya sogok dan uang pelicin telah masuk dan merusak sendi-sendi moral bangsa dari level tertinggi hingga level terendah. Siapapun seakan ingin mendapatkan uang secara instan meskipun bertentangan dengan norma. Bahkan, agama sebagai tiang masyarakat sudah semakin kesulitan untuk menangkalnya.

Percaya atau tidak, kondisi yang terjadi sekarang ini ternyata tidak jauh berbeda dengan 40 tahun silam. Namun mengapa saat itu bisa muncul seorang Hoegeng sedangkan sekarang tidak? Ini adalah pertanyaan menarik dengan berbagai kemungkinan jawaban.

Yang jelas, menjadi orang jujur itu bukan perkara mudah. Kejujuran yang dimiliki Hoegeng tidak muncul dan bertahan begitu saja. Dibutuhkan berbagai faktor-faktor pendukung, baik internal maupun eksternal agar sikap jujur yang (biasanya) ditanamkan sejak kecil bisa dijalankan secara konsisten. Belajar dari kisah Hoegeng, ada beberapa alasan mengapa beliau bisa tetap mempertahankan idealismenya hingga akhir hayat.

1. Didikan Masa Kecil

Hoegeng terlahir dalam lingkungan penegak hukum yang jujur dan profesional. Ayahnya, Sukario Hatmodjo, adalah seorang jaksa di Pekalongan. Meskipun berasal dari kalangan birokrat, ayahnya tidak sempat memiliki tanah dan rumah pribadi hingga akhir hayat. Pendirian ayahnya satu: “yang penting dalam kehidupan adalah kehormatan, jangan merusak nama baik dengan perbuatan mencemarkan”.

Salah satu sahabat ayahnya yang telah mengilhami Hoegeng untuk menjadi polisi bernama Ating Natadikusumah yang saat itu menjabat sebagai Kapala Jawatan Kepolisian Karesidenan Pekalongan, dengan pangkat Komisaris Polisi Kelas I. Penampilan Ating yang gagah, berwibawa, suka menolong orang dan memiliki banyak teman telah memberikan kesan mendalam bagi Hoegeng kecil.

Satu lagi sahabat ayahnya yang lain yang turut membentuk karakter Hoegeng adalah Soeprapto. Beliau ini jaksa agung 1950-1959 yang pada masa jabatannya berhasil menggiring beberapa menteri ke dalam penjara akibat dugaan kasus korupsi.

Lingkungan seperti inilah yang nampaknya telah menanamkan jiwa kejujuran dan mengormati hukum kepada Hoegeng semenjak kecil. Contoh-contoh teladan yang begitu nyata dan begtu dekat dengannya menyebabkan didikan moral tersebut dapat lebih mudah meresap dan terkristalisasi menjadi pedoman hidupnya kelak.

2. Keinginan Pribadi Yang Kuat

Sebagai abdi masyarakat, ada pandangan hidup Hoegeng yang sangat menarik dan perlu ditiru oleh pejabat-pejabat kita saat ini. Menurutnya, pemerintahan yang bersih harus dimulai dari atas. Seperti halnya orang mandi, guyuran air untuk mebersihkan diri selalu dimulai dari kepala.

Hoegeng percaya, ketika seseorang mendudukui suatu jabatan, akan begitu banyak pihak-pihak dari berbagai kepentingan yang mencoba melakukan pendekatan agar kepentingannya terpenuhi. Ini dialaminya ketika bertugas di Sumatra Utara. Begitu banyak “hadiah” selamat datang yang diterimanya ketika pertama kali menjejakkan kaki di Medan. Dengan tegas, semua hadiah itu ditolak. Sikap Hoegeng yang tidak mampu disogok dengan cara apapun telah menimbulkan geger di masyarakat saat itu. Ia ternyata tidak haus kebendaan. Terlebih ia mampu membongkar berbagai kasus kejahatan kriminal di sana.

Agar mampu bertindak tegas dalam setiap kesempatan, Hoegeng selalu berusaha menutup celah-celah yang bisa dimanfaatkan berbagai pihak untuk menceburkannya ke dalam korupsi. Contoh nyatanya dengan menutup usaha dagang bunga milik istrinya sendiri ketika ia diangkat sebagai Kepala Jawatan Imigrasi. Alasannya sederhana, agar orang-orang tidak beli di toko itu karena jabatannya.

Nampak jelas, betapa Hoegeng tidak dapat dibeli. Sebaliknya, ia menunjukkan sikap seorang pamong sejati yang menempatkan kepentingan masyarakat jauh di atas kepentingan pribadi. Keloyalannya ditujukan kepada institusi tempat ia bernaung, bukan kepada atasan, bukan pula kepada sekelompok kaum berduit.

3. Dukungan Keluarga

Tidak akan ada kesuksesan tanpa dukungan keluarga. Sikap idealisme Hoegeng tidak akan berarti tanpa dukungan penuh dari istri dan anak-anaknya. Sikap keluarga yang tidak menuntut banyak inilah yang memastikan Hoegeng tetap berada di jalur yang benar.

Bayangkan, istri mana yang sanggup menerima tuntutan sang suami untuk menutup bisnis miliknya. Ataupun remaja mana yang dapat menerima perilaku ayahnya yang secara sengaja “menggagalkan” proses pendaftarannya sebagai calon taruna AAU. Semuanya dilakukan demi sebuah idealisme agar tidak dianggap memanfaatkan jabatan. Kalau bukan keluarga Hoegeng, ceritanya mungkin akan berbeda.

Pada akhirnya, bangsa ini sangat membutuhkan Hoegeng-Hoegeng muda. Siapakah mereka? Ya, kita semua. Generasi muda yang telah muak melihat kehancuran di masyarakat. Penolakan-penolakan dari kalangan tua yang sudah lama terbuai oleh nikmatnya candu dunia pastilah ada. Namun jangan anggap penolakan itu sebagai halangan. Anggaplah itu sebagai cambuk agar kita semakin terpacu dan tetap konsisten memberantas kebobrokan moral dan kemunafikan yg terjadi di negara ini. Jika seorang Hoegeng bisa, kitapun pasti juga bisa!


Responses

  1. memang sebuah karya yang menarik, saya juga sempat membacanya, namun hasil pinjaman dari sahabat tercinta,🙂

    salam keakraban…

    pasti BISA!

  2. mantap… postingnya neh…
    lam kenal dari sy Agus Suhanto


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: