about me

Saya lahir di Ujung Pandang, sebuah kota di pesisir pulau Sulawesi bagian selatan. Di sana saya menghabiskan masa-masa kecil, mulai dari lahir hingga tamat SLTP, sehingga sempat merasakan efek dari perubahan namanya kembali ke Makassar. Saya ingat benar waktu masih kelas 6 SD. Saat itu saya  sedang menambal ban sepeda di depan kantor TVRI dan berbincang-bincang dengan seorang bapak yang mengemukakan argumennya mengenai biaya yang harus dihabiskan seluruh institusi di Makassar terkait perubahan nama ini. Biayanya besar katanya, mulai dari cetak kartu nama baru, cetak plang baru bahkan jahit seragam baru. Namun, ternyata nama Makassar memang jauh lebih gagah, terkenal sejak jaman pemerintahan Sultan Hasanuddin hingga ke mancanegara. Dan memang itulah alasan dibalik perubahan nama ini.

Saat balita, saya pernah tinggal di Dusun Laira, Kelurahan Kapidi, Kecamatan Masamba, Kab. Luwu. Waktu itu, Masamba belum berdiri sendiri sebagai ibukota kabupaten Luwu Utara. Perjalanan 8 jam dari Makassar tetap dilakoni demi mengikuti keinginan bapak saya yang merintis sepetak perkebunan kakao. Nama-nama bisnya masih saya ingat, misalnya Haji Beddu Solo, Cahaya Solo, Piposs, Liman, dan Dua Tiga Tujuh. Paling sering, saya naik Cahaya Solo.

Menjelang TK, orangtua saya memutuskan bahwa saya harus sekolah di Makassar.  TK saya bernama Nurul Askar, sama dengan nama masjid di sebelahnya, terletak di tengah-tengah Kompleks Asrama Mattoangin. Di depannya terdapat lapangan cukup luas yg biasa digunakan untuk Sholat Ied saat lebaran tiba.

Lulus TK, saya melanjutkan ke SDN IKIP 1 yang terletak di Jl. A.P. Pattarani. Untuk mencapainya, satu-satunya transportasi umum yg tersedia adalah Bis Damri 06. Tiap pagi jam 6.30, bapak saya mengantar saya ke halte di depan Jl. Kakatua. Ongkosnya cuma Rp. 100,-

Lulus SD, saya masuk di SLTP Neg. 3 Makassar. Lokasinya yang di Jl. Baji Gau No. 11 tidak terlalu jauh dari rumah saya. Kadang-kadang saya jalan kaki atau naik becak, tapi lebih seringnya sih naik pete’-pete’ (angkot).

Selepas SLTP ini lah perantauan saya dimulai. Alhamdulillah, setelah melalui serangkaian tes yang berat, saya berhasil diterima di SMU Taruna Nusantara Magelang. Boleh dibilang, di sinilah awal dari titik balik kehidupan saya, sebab untuk pertama kalinya saya bertemu dengan remaja-remaja seusia saya dari seluruh wilayah Indonesia. Dan mereka semuanya cerdas! Saya yg sebelumnya selalu juara kelas menjadi bukan siapa-siapa di situ. Memang benar, masih ada langit di atas langit.

Tiga tahun di Magelang menghantarkan saya meraih beasiswa penuh di President University Cikarang jurusan Teknik Elektro. Boleh dibilang, pilihan saya ini termasuk berani, sebab saat itu President University hanyalah sebuah kampus baru yang belum dikenal namanya. Bahkan, pada mulanya saya tidak pernah membayangkan akan kulian di sana. Namun, setelah merasakan sendiri pendidikan yang saya terima, saya akhirnya sadar bahwa pilihan saya tidak salah. Di kampus ini, saya menemukan cara pandang yang baru. Selain itu, saya bisa belajar mengasah kemampuan kepemimpinan saya dengan merintis berdirinya organisasi senat kemahasiswaan (President University Student Council).

Lulus dari President University, saya sempat ke Jakarta untuk bekerja sebagai guru SMA di sebuah kantor konsultan pendidikan. Klien besar saat itu adalah SMA Al-Azhar Syifa Budi Kemang dan SMA Bakti Mulya 400. Di sana saya mengajar kelas internasional untuk mata pelajaran matematika dan fisika selama 1 semester.

Karir profesional saya dimulai saat dilibatkan dalam sebuah proyek besar Jababeka. Proyek ini bertujuan menyiapkan kebutuhan energi listrik di kawasan industri Jababeka. Sebuah PLTGU pun didirikan dengan kapasitas 1×130 MW. Saya terlibat mulai dari awal, saat lokasi proyek hanya berupa tanah kosong hingga terinstalnya beberapa mesin-mesin utama untuk unit pertama. Bahkan, saya pernah dikirim ke Hiroshima (Jepang) selama seminggu untuk melakukan inspeksi mesin steam turbin sebelum dikirim ke Indonesia. Saya bertahan di sekitar 1.5 tahun di sana.

Saat ini, saya bekerja di sebuah geothermal power plant (PLTP) di daerah Pangalengan Kab. Bandung. Saya tertarik di geothermal karena satu hal: Indonesia kaya akan potensi ini namun belum dimanfaatkan secara maksimal. Apalagi, energi ini termasuk green energy dan renewable apabila dimanfaatkan secara bijak. Mudah-mudahan, energi ini bisa dimanfaatkan oleh anak cucu kelak dan mengurangi ketergantungan kita akan bahan bakar minyak.

Responses

  1. pindah ke Depok aja Munggang……Depok enak lho….gak begitu panas

  2. iya ya? tapi rejekinya masih di cikarang euy … :p

  3. doelah..
    maju terus pantang mundur…

    Merdeka!!!

  4. wah asik juga tuh tertarik dibidang energi…
    aku juga awalnya ga tertarik, tp pas bekerja di PLTU sepertinya menyenangkan…
    it’s fun….


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: